Kamis, 29 Oktober 2009 14:14 WIB News Share :

Turis tak tahan berjemur di Pantai Kuta

Kuta–Sejumlah wisatawan mancanegara mengaku tidak tahan lagi untuk berjemur berlama-lama di Pantai Kuta, Bali, sehubungan terik sinar matahari lebih panas dibandingkan biasanya.

Turis yang biasa berjemur hingga menjelang tengah hari di hamparan pasir putih Pantai Kuta, kini tampak hanya melakukan itu sampai pukul 09.30 Wita, demikian ANTARA melaporkan dari Kuta, Kamis.

Michael Lois, wisatawan asal Australia yang mengaku telah tiga kali ke Bali, mengatakan bahwa panasnya sinar matahari di Pantai Kuta dirasakan cukup berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.

Pada beberapa kunjungan sebelumnya, lanjut dia, dirinya selalu bisa berjemur dalam waktu yang cukup lama, yakni antara lima sampai enam jam di Pantai Kuta, namun kini hanya bisa dilakukan tidak lebih dari tiga jam. Senada dengan Lois, Jeans, wisatawan asal Kanada mengaku tidak lagi dapat bertahan lama-lama di daerah pantai, sehubungan suhu udaranya yang cukup “menyengat” kulit.

Sejalan dengan itu, hamparan pasir putih di garis pantai sepanjang 12 kilometer itu juga turut memanas, sehingga tidak banyak pelancong yang tampak berjemur diri, yang biasanya juga dilakukan dengan berbaring.

“Boro-boro berbaring, jongkok juga telapak kaki sudah terasa dibakar,” kata Made Suarta, pemandu wisatawan atau guide asal Denpasar.

Akibat hamparan pasir yang panas, sebagian turis menjelang siang hari itu tampak memilih untuk berenang-renang di garis pantai yang berair bangkal.

Selain berenang, beberapa turis juga tampak berselancar mengarungi deburan ombak yang cukup besar di pantai yang me njadi pusat kunjungan wisatawan mancanegara itu.

Tidak hanya di Kuta, namun suhu udara di berbagai daerah lain di Bali juga dirasakan mengalami peningkatan sejak beberapa hari ini.Petugas pada Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, mengungkapkan, peningkatan suhu udara di Bali sesungguhnya telah mulai terjadi sejak pertengahan Oktober 2009.

Suhu udara di Bali saat ini mencapai panas optimum yakni 33 hingga 34 derajat celcius, meningkat dibanding sebelumnya yang maksimum 32 derajat Celcius.

“Kenaikan suhu udara itu terjadi sehubungan posisi matahari kini tepat berada di atas Pulau Dewata, tepatnya 10 derajat lintang selatan (LS),” kata Kabid Data dan Informasi BMKG Bali, Endro Cahyono.

Kondisi panas yang melebihi hari-hari biasanya ini diprediksi berlangsung hingga awal November mendatang, ucapnya. Endro Cahyono mengingatkan, kenaikan suhu udara bisa memicu timbulnya hujan lokal, bahkan angin puting beliung di Bali.

Selain puting beliung, ia juga mengingatkan warga untuk waspada terhadap kemungkinan timbulnya kilatan petir yang biasanya sering muncul pada peralihan musim dari kemarau ke penghujan, atau pada musim pancaroba nanti.
Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…