Kamis, 29 Oktober 2009 19:08 WIB Sukoharjo Share :

PT Pabelan ditutup, puluhan buruh terancam dirumahkan

Sukoharjo (Espos)–Penutupan PT Pabelan Cerdas Nusantara sejak Senin (12/10) lalu berimbas kepada ketidakjelasan nasib buruh yang bekerja di perusahaan itu. Meski surat pemutusan hubungan kerja (PHK) belum buruh terima, namun perusahaan sudah meliburkan mereka terhitung sejak PT Pabelan ditutup.

Sementara itu, mediasi antara buruh dengan dewan direksi PT Pabelan Cerdas Nusantara, Kamis (29/10) belum menemukan kesepakatan apapun. Dalam mediasi tersebut buruh menanyakan status mereka menyusul penutupan PT Pabelan pada Senin (12/10) lalu beserta tiga bulan gaji mereka yang belum dibayar perusahaan.

Meski agenda mediasi berdasarkan rencana dimulai pukul 09.00 WIB, namun berdasar pantauan acara baru dimulai pukul 10.00 WIB. Sebanyak 54 orang buruh yang statusnya tak jelas didampingi Lembaga Pengabdian Hukum (LBH) YAPHI mendatangi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) untuk mengikuti mediasi.

Ketua Serikat Pekerja (SP) PT Pabelan, Titik Nurkayati menuturkan, kronologis penutupan PT Pabelan diawali dari kerjasama antara perusahaan tersebut dengan Sindur Grafika mulai Juli 2009 lalu.

“Sebenarnya terkait kondisi perusahaan yang tidak begitu sehat sudah bisa dilihat sejak lama. Buruh terutama merasakan hal itu mulai April lalu hinga Juni lalu, sebab di tiga bulan itulah kami tidak digaji,” jelas Titik kepada wartawan, Kamis.

Dengan kondisi perusahaan yang tak mampu membayar karyawan, Titik menambahkan, PT Pabelan akhirnya bekerjasama dengan Sindur Grafika. Kerjasama itu mulai terjalin pada Juli hingga Agustus.

“Setelah PT Pabelan bekerjasama dengan Sindur Grafika, resmi kami mulai bekerja di bawah Sindur Grafika karena yang menggaji kami perusahaan itu bukan lagi PT Pabelan. Namun setelah kerjasama habis pada 29 September, buruh kembali tidak mendapat gaji.

Setelah tidak lagi bekerja pada Sindur Grafika, Titik menambahkan, buruh kembali kepada PT Pabelan.

“Meski kerjasama antara PT Pabelan dengan Sindur Grafika berakhir dan kantor PT Pabelan digembok pada 12 Oktober, kami tidak mau terjebak dengan keadaan. Kami tetap masuk dan absen agar kami tidak dinyatakan membolos sehingga dibuat alasan bagi perusahaan untuk mem-PHK-kan kami,” tandasnya.

Kuasa hukum buruh dari LBH YAPHI, Herry Hendroharjuno menegaskan, yang dituntut buruh sederhana. Pertama mengenai status kerja dan kedua pembayaran gaji selama tiga bulan serta pembayaran tunjangan hari raya (THR) yang baru dibayar sebagian kecil. Misalnya pun perusahaan belum mampu membayar saat ini, imbuh dia, harusnya perusahaan mau berkorban dengan cara menjual aset perusahaan.

Kabid Hubungan Industrial dan Perselisihan Tenaga Kerja Disnakertrans, Langgeng Wiyono menjelaskan, mediasi belum menghasilkan keputusan.

aps

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…