Sabtu, 24 Oktober 2009 20:12 WIB Karanganyar Share :

Superioritas laki-laki bisa jadi pemicu KDRT

Karanganyar (Espos)–Secara umum, penyebab kekerasan terhadap perempuan sangatlah bervariasi, salah satunya terkait dengan relasi gender yang tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki akibat dari kuatnya budaya patriarki.

Hal itu diungkapkan Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, dosen FISIP UNS Solo, yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Gender-LPPM UNS, pada seminar tentang kekerasan dan trafficking di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Sabtu (24/10).

“Pada tataran keluarga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terjadi karena laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. Kita umumnya percaya laki-laki berkuasa atas perempuan di dalam rumah tangga, suami berada dalam posisi superior atas istri,” ungkap Ismi, yang juga anggota tim pakar Gender Depdiknas ini.

Sayangnya, hal itu turut diperparah dengan pandangan masyarakat yang sering kali menganggap KDRT bukan sebagai persoalan sosial, tetapi dianggap sebagai persoalan pribadi suami-istri.
Pemerintah sendiri sebenarnya telah berkomitmen untuk mengangkat persoalan KDRT sebagai persoalan publik dengan mengeluarkan undang-undang yang memberi perlindungan terhadap korban kekerasan. Namun, kasus-kasus kekerasan yang diangkat dalam wilayah hukum seringkali diselesaikan tanpa ada pemihakan terhadap korban.

dsp

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Jokowi Raja Batak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (13/01/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, inisiator Sinabung Karo Jazz 2017. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Saya bukan ahli budaya Batak. Dengan jujur saya harus mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang budaya…