Rabu, 21 Oktober 2009 16:17 WIB News Share :

Sembilan kecamatan di Temanggung rawan longsor

Temanggung–Sebanyak sembilan dari 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah merupakan daerah rawan tanah longsor pada musim hujan, kata Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat, Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindugan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Temanggung, Agus Sudaryono.

“Menghadapi musim hujan mendatang, Pemerintah Kabupaten Temanggung telah memetakan daerah rawan longsor dan mengimbau masyarakat di daerah tersebut untuk selalu waspada,” katanya
di Temanggung, Rabu.

Ia menyebutkan, daerah rawan longsor tersebut terutama di wilayah bagian utara Kabupaten Temanggung, yakni Kecamatan Tretep, Wonoboyo, Bejen, Candiroto, Jumo, Gemawang, Kandangan, Kaloran, dan Pringsurat. Menurut dia, di kawasan tersebut banyak tanah bukit dan bertebing dan kalau tersiram air hujan rawan terjadi longsor.

Menjelang musim hujan ini, katanya, Kesbangpolinmas telah mengingatkan kepada masyarakat di daerah rawan longsor untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap bencana longsor.

“Kami telah mengirim surat edaran kepada para camat untuk mengingatkan masyarakat dan selalu waspada  terhadap bencana tanah longsor pada musim hujan,” katanya.

Selain itu, katanya, di tingkat kabupaten dibentuk Posko Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) yang siaga selama 24 jam.

“Kami berharap jika terjadi bencana masyarakat cepat melaporkan ke aparat atau ke Posko Satlak PB agar segera mendapat penanganan,” katanya.

Ia mengatakan, selain tanah longsor, di wilayah Kabupaten Temanggung juga rawan terjadi angin puting beliung, terutama pada saat perubahan musim atau pancaroba.

Menurut dia, kawasan yang rawan terjadi angin puting beliung adalah di daerah lereng gunung, antara lain Kecamatan Selopampan, Tembarak, Tlogo, Temanggung, Bulu, Wonoboyo, Bansari, Parakan, dan Ngadirejo.

Ia menyebutkan, beberapa waktu lalu telah terjadi angin puting beliung di Kecamatan Kandangan yang merusak sejumlah rumah dan satu bangunan sekolah dasar, yakni di Desa Samiranan empat rumah rusak dan di Desa Tepusen 10 rumah serta merusak bangunan SD II Tepusen.  
Ant/tya

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…