Senin, 19 Oktober 2009 17:52 WIB Solo Share :

2009, 22 Anak gizi buruk di Jateng meninggal

Solo (Espos)–Kasus gizi buruk yang melanda Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tahun 2009 dalam satu semester telah mencapai 610 kasus. Dari jumlah tersebut, 22 di antaranya terpaksa meregang nyawa sia-sia lantaran tak lagi tertolong.

Kepala Dinas Kesehatan Provinis Jawa Tengah, Dr Hartanto M Med SC pada sela-sela menghadiri Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Provinsi Jateng di RSUD Dr Moewardi Solo, Senin (19/10) menyatakan, kasus kematian terbanyak anak penderita gizi buruk terjadi di Kabupaten Rembang.

Dia melanjutkan, kematian anak penderita gizi buruk tersebut juga tak terlepas dari faktor ekonomi orangtua. Sehingga, anak-anak yang terserang gizi buruk tersebut juga sekaligus menderita komplikasi penyakit hingga membuat anak tak tertolong.

“Selain gizi buruk, tingkat kesehatan mereka biasanya juga juga buruk seperti diare, hidrochyphalus, tipes, polio dan lain sebagainya. Sehingga, peluang kematian anak-anak gizi buruk besar,” paparnya.

Data yang dihimpun Dinkes Jateng, dari total 610 kasus anak penderita gizi buruk, sebanyak 509 anak dinyatakan tertolong dengan selamat. Meski demikian, tertolongnya anak-anak penderita gizi tersebut banyak pula yang kembali kambuh setelah bantuan untuk penambahan gizi telah habis.

“Ini yang mestinya menjadi PR bersama. Karena, anak-anak penderita gizi buruk itu juga hidup di tengah-tengah keluarga yang miskin. Sehingga, ketika bantuan penambahan gizi buruk sudah habis, kondisi anak kembali memburuk. Maka, ini perlu dicarikan solusi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat, agar anak-anak itu dapat bertahan dengan gizi yang baik,” paparnya.

Tingginya kasus anak penderita gizi buruk di Pemprov Jateng, kata Hartanto, memang menjadi dilema. Karena selain bantuan peningkatan gizi anak yang terbatas, juga karena kondisi orangtua anak yang miskin.

“Makanya, Pemerintah melalui APBD memberikan bantuan biaya  kepada anak penderita gizi buruk sekaligus orantuanya senilai Rp 4 juta. Dengan dana tersebut, lanjutnya, orangtua diharapkan bisa memanfaatkan untuk meningkatan gizi buat anak-anaknya,” paparnya.

asa

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….