Minggu, 18 Oktober 2009 00:24 WIB Issue Share :

Ki Sugati, maestro ketoprak telah berpulang

Suasana duka menyelimuti sebuah rumah di Dusun Pajangan, Desa Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Ratusan pelayat memenuhi rumah duka sang maestro ketoprak Ki Sugati yang telah berpulang, Sabtu (17/10) pukul 13.30 WIB. Ki Sugati wafat karena penyakit stroke yang sudah dideritanya selama 7 tahun.

Menurut Basuki Supriyatman, putra pertama Ki Sugati, sejak Lebaran Ki Sugati atau yang biasa disapa Mbah Gati kondisi kesehatannya sudah menurun. Kondisi kesehatannya berangsur menurun, sejak dokter memvonis Mbah Gati menderita stroke. Mbah Gati sudah tidak mendalang, sehari-hari tidak bisa melakukan aktivitas, dan sulit berbicara.

”Bapak berpesan sebelum meninggal agar anak-anaknya melanjutkan cita-cita bapak, keinginan itu memang sudah terpenuhi, sebab anak-anaknya berkiprah di bidang seni tradisional,” ujar Supriyatman sembari menuturkan Mbah Gati wafat meninggalkan 2 orang istri, 6 orang anak dan 9 orang cucu dan 1 orang buyut.

Ki Sugati semasa hidup adalah figur yang memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Mbah Gati, demikian panggilan akrabnya, kali terakhir mementaskan lakon pada 2 Juli 2001 pada pagelaran ketoprak interaksi dengan lakon Sang Maestro dan Arya Penangsang di Gedung Purna Budaya Yogyakarta. Pada pagelaran itu, Mbah Gati juga menerima anugerah gelar Empu Ketoprak dari Marwoto Enterprises.
Pementasan terakhir
”Waktu itu Bapak seperti sudah ada firasat kalau ini adalah pementasan terakhir, karena setelah pentas berakhir bapak saling memeluk, dan suasananya juga sudah sedih. Setelah itu, bapak kena stroke dan sudah tidak mendalang lagi semenjak itu,” kata Bertha Sugati, putri nomer empat Mbah Gati.
Di dunia seni tradisional Jogja, nama Ki Sugati tak bisa dipisahkan dari kakaknya, Ki Sugito yang telah meninggal pada tahun 1996. Gito dan Gati bisa mementaskan wayang. Jika Gito mendalang, Gati yang main gendang. Dalam perjalanan selanjutnya, Gati lebih laris sebagai pemain ketoprak sementara Gito makin laris sebagai dalang. Si kembar ini selalu bermain bersama dalam wayang maupun ketoprak.
”Jasa Ki Sugati tak pernah dilupakan oleh seniman ketoprak. Salah satu usahanya adalah menghimpun dan menghidupi seniman ketoprak  dalam wadah Persatuan Seni Bagian Yogya Utara (PS BAYU), sejak tahun lima puluhan,” kata Ki Edi Endartono, Ketua Pepadi DIY, pada Harian Jogja.
Rencananya, jenazah Mbah Gati akan dimakamkan Minggu (18/10) siang ini. Selamat jalan Mbah Gati, semoga karya dan amal kebaikanmu di terima di sisi Tuhan.

Harian Jogja/JIBI/tia

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…