Jumat, 16 Oktober 2009 17:07 WIB Pendidikan Share :

Mahasiswa desak pemerintah prioritaskan ketahanan pangan

Solo (Espos)–Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) mengelar aksi damai di Boulevard UNS. Mereka mendesak pemerintah memprioritaskan ketahanan pangan dalam kebijakan politiknya.

Pantauan Espos di lokasi, Jumat (16/10), aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan Aksi Peduli Pangan Untuk Indonesia Sejahtera. Mereka juga membentangkan berbagai poster bertuliskan sindiran-sindiran tentang persoalan pangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Beberapa poster di antaranya bertuliskan Indonesia Negara Agraris Tetapi Mengapa Rakyat Miris, Kelaparan Di Mana-mana Tanya Kenapa, Revolusioner Pangan Indonesia, dan lain-lain. Dalam aksi damai itu, ditampilkan pula teatrikal dari tiga orang mahasiswa yang bercerita tentang potret kehidupan masyarakat saat ini.

Dalam aksi teatrikal itu, tampak dua mahasiswa berperan sebagai orang miskin dan satu mahasiswa berperan sebagai orang kaya. Kedua orang miskin itu berusaha meminta sesuap nasi yang sedang dimakan si kaya.

Akan tetapi, si kaya menolak hingga menumpahkan makanan yang dibawanya. Aksi damai itu berjalan khidmat selama satu jam lamanya di tengah arus kendaraan yang lalu lalang di area lokasi.

Dalam orasinya, Presiden BEM Fakultas Pertanian UNS, Fajar Slamet Handoko memaparkan bahwa Indonesia sebenarnya mempunyai sumber daya alam yang cukup guna menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Ironisnya, hingga kini masih banyak penduduk Indonesia belum mendapatkan kebutuhan pangan yang tercukupi.

“Saat ini lebih dari seperempat dari jumlah penduduk anak usia di bawah lima tahun (Balita) memiliki berat badan di bawah standar, bahkan sebanyak delapan persen di antaranya berada dalam kondisi sangat buruk,” papar Fajar.

Fajar menambahkan, kurangnya pemenuhan kebutuhan gizi akan menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas dalam berkerja. Untuk itu, lanjut Fajar, pemerintah hendaknya memperhatikan beberapa solusi yang ditawarkan dalam rangka mengantisipasi persoalan pangan bagi bangsa ini. Beberapa solusi itu antara lain desakan agar persoalan ketahanan pangan menjadi sorotan utama yang harus digarap pemerintah, mengembangkan potensi pangan lokal sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan, dan peningkatan kesejahteraan petani.

m82

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…