Kamis, 15 Oktober 2009 12:54 WIB News Share :

BIN
Teroris di Indonesia sementara tiarap

Pandeglang--Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar mengatakan, aksi-aksi terorisme di Indonesia dalam beberapa waktu mendatang, cenderung tiarap menyusul tewasnya gembong teroris Noordin M Top dan beberapa kaki tangannya dalam beberapa bulan ini.

Ditemui seusai memberikan sambutan pada halalbihalal dan silaturahmi Muspida Banten, tokoh masyarakat dan ulama setempat, di Pandeglang, Banten, Kamis (15/10), ia mengatakan, meski kegiatan para teroris cenderung menurun namun tingkat kewaspadaan terhadap ancaman terorisme harus tetap dipelihara dan ditingkatkan.

“Tewasnya beberapa pimpinan teroris di beberapa tempat dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, mau tidak mau telah membuat sel-sel dan kelompok-kelompok teroris itu tiarap,” katanya.

Syamsir menambahkan, tiarapnya sel-sel teroris itu juga harus diantisipasi mengingat tenggang waktu itu bisa saja mereka melakukan konsolidasi, memperkuat organisasi untuk melancarkan aksi baru.

“Jadi, tetap kita harus waspadai meski mereka kini tiarap,” ujarnya.

Tentang berapa lama lagi mereka akan bangkit, Syamsir mengatakan bisa empat sampai lima tahun. “Tetapi itu sangat tergantung peta kekuatan mereka, jadi tetaplah waspada karena aksi terorisme itu tidak bisa diprediksi secara pasti kapan munculnya meski indikator mereka sudah bisa di deteksi,” tutur Kepala BIN.

Tim satuan tugas antiteror Mabes Polri telah menangkap 466 orang yang terlibat terorisme sejak peristiwa bom Bali 2002. Sebanyak 14 orang di antaranya tewas saat disergap.

Walaupun penembakan itu akibat dari adanya perlawanan pelaku, hal tersebut dikhawatirkan memutus rantai informasi.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan, pada dasarnya kebijakan Polri dalam setiap penyergapan adalah menangkap sasaran hidup-hidup.

“Namun, di lapangan beberapa kali polisi terpaksa menembak karena sasaran penyergapan kerap melawan. Hal itu juga terjadi saat menyergap buronan kakak-beradik Mohamad Syahrir dan Syaifudin Zuhri di rumah kos di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (9/10) siang,” ujarnya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…