Senin, 12 Oktober 2009 16:54 WIB News,Ekonomi Share :

Euforia Industri batik bisa jadi bencana

Jakarta–Euforia kalangan pelaku industri batik dalam negeri pasca ditetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO dikhawatirkan akan memicu disorientasi pasar batik. Industri batik Tanah Air diharapkan untuk tetap mengedepankan aspek kebutuhan pasar dalam memproduksi batik.
 
“Sekarang ada spirit baru, efek psikologis sangat dahsyat, produksi semangat, batik sangat tumbuh. Tetapi tolong pemda ini diperhatikan jangan sampai bubble , tapi ini persoalan pasar,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian Fauzi Aziz, di kantornya, Jakarta, Senin (12/10).
 
Ia menjelaskan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik, semangat memproduksi batik sangat tinggi di kalangan pengusaha. Namun dikhwatirkan produksi batik yang tinggi tidak diimbangi oleh minat pasar yang sesuai sehingga produksi tersebut tak akan mudah diserap pasar lokal maupun ekspor.
 
“Jadi harus tetap menarik dengan keinginan konsumen, harus ecofriendly,” katanya.
 
Khusus mengenai penetrasi ekspor batik, kembali lagi ia menegaskan batik harus terus diyakinkan pada dunia, termasuk menyesuaikan keinginan pasar ekspor misalnya untuk produk-produk di luar pakaian dan sebagainya.
 
“Ekspor batik terus terang tidak terlalu besar, karena faktor iklim dan belum banyak dikenal pasar. Setelah ini kita harus menjelaskan di banyak forum seperti Asia, Eropa,” katanya.
 
Dikatakannya saat ini, seharusnya industri batik tetap berorientasi pada pasar domestik terlebih dahulu. Mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta lebih, jika separuh saja menggunakan batik maka sudah menjadi pasar yang besar untuk batik.
 
“Kalau 100 juta saja, mereka sudah sangat gemar, tentunya akan mengkapitalisasi,” imbuhnya.
 
Untuk itu kata dia, dalam rangka mendukung industri batik di tanah air khususnya batik yang berbasis tulis dan cetak. Setidaknya untuk setiap tahunnya Departemen Perindustrian akan memfasilitasi 100 perajin untuk membuat batik mark, dimana biaya pembuatan di tanggung pemerintah.
 
“Batik mark penting, agar masyarakat tahu kalau ada yang produk yang benar-benar batik, atau hanya tekstil yang bercorak batik,” terang Fauzi.
dtc/tya

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…