Senin, 12 Oktober 2009 18:39 WIB News Share :

190 warga Jateng meninggal akibat DBD

Semarang (Espos)--Selama kurun waktu Januari-Oktober 2009 tercatat sebanyak 190 warga Jawa Tengah meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah Hartanto korban meninggal dunia akibat penyakit DBD paling banyak terjadi di Kota Semarang.

“Di Kota Semarang tercatat sebanyak 34 orang meninggal karena DBD,” katanya kepada wartawan di Semarang, Senin (12/10).

Lebih lanjut ia menjelaskan, selama Januari-Oktober jumlah kasus penyakit yang disebakan gigitan nyamuk aides aegypty sebanyak 13.949 orang penderita, terbanyak di Kota Semarang mencapai 2.905 orang penderita.

Sedang daerah endemis DBD di Jawa Tengah (Jateng) telah menjangkau merata di 35 kabupaten/kota yang ada, termasuk Wonogiri dan Banjarnegara yang sebelumnya bebas dari penyakit tersebut.

“Meski angka kasus DBD di Jateng cukup tinggi, namun angka kematian masih dalam batas normal,” katanya.

Untuk memberantas penyakit DBD, Hartanto mengharapkan peran serta masing-masing pemerintah kabupaten (Pemkab)/Pemkota dengan menggerakan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) kepada masyarakat.

Selain itu juga mengintensifkan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk secara berkala pada tempat penampungan air milik warga.

Hartanto menambahkan semestinya kasus DBD dapat dijadikan sebagai bagian indikator prestasi kinerja perangkat daerah, seperti di Bantul, Yogyakarta kasus DBD menjadi indikator prestasi kepala desa.

oto

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…