Minggu, 11 Oktober 2009 20:09 WIB Solo Share :

Radya Pustaka terus berbenah

Solo (Espos)–Museum Radya Pustaka Solo terus berbenah. Lebih dari 4.000 naskah dan buku koleksi museum itu sudah dibersihkan, diperbaiki, dinomori dan dibuatkan katalog. Sedangkan 76 buku/naskah sudah dialihbahasakan.

Kini museum itu siap melangkah pada labelisasi koleksi benda-benda bersejarah. Labelisasi itu akan diawali dengan jamasan keris pada akhir tahun ini. Selain itu, saat ini tengah dilakukan pula identifikasi keris, yang meliputi dapur (tipe), pamor (kembangan/batikan dan tangguh (jenis/style), guna melengkapi keterangan dalam labelnya. Pekerjaan itu dilakukan pengelola Museum Radya Pustaka bersama seorang pakar pembuat tosan aji bernama Totok HD Sugiarto alias KRT Brajadipura.

Sekretaris Komite Museum Radya Pustaka, Djaka Darjata, ditemui di museum tersebut, Minggu (11/10), pembuat tosan aji itu datang ke Museum sepekan sekali setiap hari Selasa. “Dengan beliau (Totok-red) inilah, kami mulai mengidentifikasi keris-keris yang ada di Radya Pustaka. Kami juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki koleksi atau ditinggali keris oleh leluhurnya tapi tidak tahu cara memeliharanya untuk berkonsultasi ke museum ini dengan Mas Totok,” ungkap Djaka.

Totok HD Sugiarto, yang kebetulan sedang berada di Museum Radya Pustaka mengatakan salah satu penyebab punahnya keris-keris peninggalan para leluhur yang berada di tangan masyarakat, adalah karena masyarakat tidak tahu cara merawatnya.

“Jangankan merawat, memegang saja kadang-kadang mereka tidak berani. Takut dikatakan musyrik dan sebagainya. Padahal, kalau mau dipelajari, keris itu mengandung nilai-nilai keindahan dan filosofi yang dalam berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya. Kalau keris itu hanyalah senjata, kenapa dia harus dibuat seindah itu?” terang Totok.

Totok mengatakan, hingga saat ini sudah banyak sekali keris-keris maupun tombak peninggalan leluhur yang rusak karena dibiarkan tak terawat. Padahal, bagaimanapun ia adalah peninggalan budaya leluhur bangsa ini.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Espos, proses nomorisasi dan katalogisasi koleksi naskah dan buku Radya Pustaka sudah mendekati final. Sudah ada lebih dari 4.000 naskah dan buku yang dibersihkan maupun diperbaiki, terdiri atas kelompok naskah/buku jawa carik, naskah/buku jawa cap, naskah bahasa asing, dan naskah baru.

Sedangkan 76 buku sudah dialihbahasakan.
Untuk koleksi benda, baru arca batu yang sudah dilabelisasi. Namun, labelisasi itu belum lengkap karena baru memuat keterangan nama sesuai inventarisasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Sedangkan standar labelisasi harus mencantumkan sejarah perolehan benda koleksi itu.

shs

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…