Sabtu, 10 Oktober 2009 11:27 WIB News Share :

Warga tolak pemakaman Syaifudin Zuhri

Cirebon–Rencana keluarga Syaefuddin Zuhri menguburkan jasad Syaefuddin Zuhri dan kakaknya, M Syahrir di tempat pemakaman keluarga tempat kelahiran ayahnya, Jaelani di Desa Sampiran Dusun Benjaran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon mendapat penolakan dari warga setempat.

Warga beralasan predikat gembong teroris yang melekat pada dua anak Jaelani yang tewas di sebuah kamar kost di kawasan Ciputat, Tanggerang Jumat (9/10) dalam penyergapan oleh jajaran Densus 88 telah mencemarkan nama baik desanya.

“Keputusan tersebut merupakan hasil dari pertemuan antara tokoh masyarakat dan perwakilan dari keluarga Jaelani, yaitu Jaduli adik kandung pak Jaelani di kantor kuwu (Desa:Red),” kata Makid, Kepala Dusun Benjaran saat ditemui di kantor Kuwu, Sabtu (10/10).

Pertemuan yang berlangsung hingga pukul 03.00 WIB dini hari tersebut, kata Makid membahas tentang keberatan warga jika dua kakak beradik teroris tersebut dimakamkan di desanya karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa juga karena keduanya bukan warga setempat.

“Kalau yang warga asli sini hanya bapaknya, Jaelani. Sedangkan Syaefuddin Zuhri dan M Syahrir yang kami tahu lahir dan besar di Jakarta. Jadi kami menolak jika desa kami hanya dijadikan kuburan untuk mereka,” lanjut Makid.

Dalam pertemuan tersebut juga, menuru Makid, adik kandung Jaelani yang masih tinggal di desa tersebut, Jaduli menyatakan menolak pemakaman dua teroris tersebut di desanya.

Warga Desa Sampiran lain yang menolak pemakaman Zuhri dan Syahrir adalah Herman. Herman mengaku selama ini tidak mengenal siapa Syaefuddin Zuhri dan M Syahrir selain sebagai teroris, itu pun diketahuinya melalui pemberitaan di televisi dan koran saja.

“Dengan pemberitaan tentang dua gembong teroris tersebut dikaitkan dengan desa kami saja sudah memberatkan kami, apalagi jika akhirnya keduanya dikuburkan di sini, kami lebih keberatan,” katanya.

“Kami takut dampaknya terhadap anak cucu kami nanti,” tegas Herman.

Seperti diucapan Sucihani, kakak kandung Syaefuddin Zuhri, jika ternyata rencana keluarga menguburkan Zuhri dan Syahrir di Desa Sampiran mendapat penolakan dari warganya, maka pihak keluarga terpaksa mengambil alternatif terakhir yaitu menguburkan keduanya disamping Ibrohim, yang beberapa waktu lalu tewas oleh Densus 88 dalam penggerebekan di Temanggung, di TPU Pondok Rangon, Jakarta.

“Jika ditolak lagi terpaksa kami akan menguburkan keduanya di samping makam Bang Boim (Ibrohim) di TPU Pondok Rangon,” ujar Sucihani di rumahnya di Desa Sampra, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan Jumat (9/10).

ant/fid

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…