Kamis, 8 Oktober 2009 11:55 WIB Feature,Berita Foto,Solo Share :

2010, bus tumpuk beroperasi di Solo

08bus-tumpuk-01

dok

Solo (Espos)–Keinginan warga Solo untuk melihat dan menikmati kembali perjalanan dengan bus bertingkat rupanya tidak hanya akan menjadi angan-angan belaka. Tahun 2010 mendatang, Solo akan memiliki bus wisata bertingkat.
Ide pengoperasian bus wisata bertingkat itu sendiri muncul dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan Solo dipilih karena selama ini dikenal sebagai pusat pariwisata di Jateng.

“Ini akan menjadi proyek percontohan. Setelah Solo, mungkin akan disusul Kota Semarang,” ungkap Kepala Bidang Prasarana Wilayah Balitbang Provinsi Jateng, Hari Tri Hermawan, didampingi peneliti laboratorium transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, seusai melakukan presentasi tentang bus wisata itu kepada Walikota Solo, Rabu (7/10).

Sebagai persiapan pengoperasian bus wisata itu, Hari mengatakan, pihaknya sudah mengadakan penelitian dan survei lapangan selama kurang lebih satu bulan. Telah disusun pula teknis dan rencana pengoperasian bus wisata itu.

Soal anggaran untuk pengadaan bus maupun biaya operasional sehari-harinya, Hari mengatakan, bisa dari APBD Provinsi Jateng dan APBD Kota Solo. Namun demikian, pihak swasta, menurut Hari, sudah banyak yang menyatakan minat untuk berinvestasi pada bus wisata itu.

Djoko Setijowarno menambahkan, tadinya yang direncanakan hanya bus mini biasa dilengkapi AC dan fasilitas lainnya. Namun, ternyata dalam presentasi kemarin, Walikota Solo Joko Widodo mengatakan warga Solo menginginkan adanya bus bertingkat yang selama puluhan tahun pernah berjaya sebagai sarana transportasi di Solo, sehingga bisa membangkitkan memori historis Kota Solo di masa lampau.

“Idealnya ada delapan unit bus yang dioperasikan dan setiap 30 menit lewat di pemberhentian. Tapi untuk tahap awal sebagai percobaan akan dioperasikan dua unit bus dulu yang melewati dua rute,” jelas Djoko.

Djoko menambahkan, meski dikatakan tempat pemberhentian, tidak akan ada halte di sana. Penumpang bisa turun di pemberhentian itu dan jika ingin melanjutkan perjalanan tinggal menunggu bus berikutnya tanpa harus membeli karcis lagi.

“Setiap penumpang harus membeli karcis dengan harga tertentu. Karcis itu bisa digunakan berkali-kali dalam sehari. Misalnya, turun di Solo Grand Mal, mau melanjutkan ke Pura Mangkunegaran, menunggu bus berikutnya tanpa harus membeli karcis lagi,” ungkap Djoko.

Rencana rute bus tingkat

Rute I: Terdapat 20 pemberhentian/halte. Bermula di Hotel Lor In, melalui Jl Muwardi, ke barat melalui Jl Slamet Riyadi, belok di Jl Agus Salim, Jl Radjiman, Jl Wahidin, Jl Slamet Riyadi, ke timur sampai dan berhenti di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Kasunanan.

Rute II: Dengan 20 titik pemberhentian, dimulai dari Alut, Jl Kyai Gede Sala, Jl Kapten Mulyadi, Jl Mayor Sunaryo, Jl Jend Sudirman, Jl Urip Sumoharjo, Jl Monginsidi, Jl S Parman, Jl RA Kartini, Pura Mangkunegaran, Jl Gajah Mada, Jl Honggowongso, Jl Radjiman, Jl Agus Salim, Jl Slamet Riyadi, Jl Muwardi, Jl Adisucipto, kembali ke Hotel Lor In.

Tempat pemberhentian meliputi tempat-tempat wisata, hotel, restoran, rumah makan, kampung batik, pusat perbelanjaan dan sebagainya.

shs

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…