Rabu, 7 Oktober 2009 11:29 WIB Ah Tenane Share :

Harga net

0710ahtenaneSebagai karyawan anyaran di sebuah toko perlengkapan olehraga di Solo, Jon Koplo lagi semangat-semangatnya bekerja. Setiap perkataan dari bos maupun pelanggan selalu diperhatikan dengan saksama.
Suatu hari, toko itu kedatangan seorang pelanggan, sebut saja Tom Gembus, seorang guru olahraga yang akan membeli bola voli dan pakaian seragam voli untuk sekolah tempatnya mengajar.
”Mas, kalau bola voli merk lain harganya berapa, ya?” tanya Gembus.
Dengan sabar Jon Koplo menjelaskan harga bola voli masing-masing merk. ”Kalau yang ini harganya memang mahal, tetapi kualitasnya dijamin jos Pak. Produk lokal tapi berkualitas internasional,” jelas Koplo berpromosi.
Akhirnya bola dan pakaian seragam voli yang dibeli Tom Gembus dimasukkan ke dalam tas kresek dan kardus. Namun sebelum membayar, Gembus mencoba ngenyang.
”Apa harganya ndak bisa kurang ta Mas? Saya kan beli banyak. Harusnya kan ada diskon,” pinta Gembus.
Koplo pun lalu mengutak-atik kalkulator untuk menghitung diskon yang akan diberikan kepada Gembus.
”Harga nett-nya berapa Mas?” tanya Gembus tiba-tiba. Koplo yang ditanya segera menghentikan menghitung dan menjawab, ”Oh sebentar, Pak. Saya ambilkan,” jawab Koplo sambil mak klepat pergi ke ruang dalam.
Tak berapa lama, Koplo keluar sambil membawa dua buah net voli dan terus nerocos menjelaskan kepada Gembus, ”Ini net yang murah dan ini net yang mahal, Pak. Bahannya berbeda,” jelas Koplo.
Gembus yang mendengarkan penjelasan Koplo malah jadi bingung. Setahunya, dia tidak punya rencana membeli net. Setelah dijelaskan, barulah ketahuan yang tidak mudheng itu memang Jon Koplo. Yang dimaksud Gembus nett tadi adalah harga netto. Maksudnya harga bersih setelah dipotong diskon.
Kontan saja ulah Koplo menjadi bahan ger-geran temannya dan pembeli yang lain. Koplo hanya bisa imbas-imbis kisinan. Kiriman Christella Jessicha T, Jl Sriwijaya Selatan II No 26, Nusukan, Solo.

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…