Senin, 5 Oktober 2009 13:08 WIB Internasional Share :

Studi
Manusia tak berevolusi dari kera

Beijing–Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.

Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, “kera darat” kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, dibeberkan di dalam jurnal “Science” terbitan Jumat (2/10).

Sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua, jurnal itu juga berisi 11 berkas mengenai temuan tersebut.

Fosil itu, yang diberi nama panggilan “Ardi”, adalah kerangka paling tua yang dikenal dari cabang manusia dari pohon keluarga primata. Cabang tersebut meliputi Homosapiens serta spesies yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan kera dan bonobo.

Temuan itu memberi pengertian baru mengenai bagaimana “hominid” –keluarga “kera besar” yang terdiri atas manusia, simpanse, gorila dan orang-utan– mungkin telah muncul dari satu nenek moyang monyet.

Sampai ditemukannya “Ardi”, tahap paling awal yang diketahui mengenai evolusi manusia adalah “Australopithecus”, “manusia kera” yang berotak kecil dan sepenuhnya berkaki dua yang hidup antara empat juta dan satu juta tahun lalu.

Fosil “Australopithecus” yang paling terkenal adalah “Lucy”, yang berumur dari 3,2 juta tahun, yang namaya diambil dari lagu Beatles “Lucy in the Sky with Diamonds”. “Lucy” ditemukan pada 1974 di tempat sekitar 45 mil dari tempat “Ardi” belakangan ditemukan.

Kerangka “Ardi” dan kerangka “Ardipithecus ramidus”, yang berkaitan, lebih tua dan lebih primitif dibandingkan dengan “Australopithecus”.

Setelah temuan “Lucy”, ada perkiraan bahwa ketika kerangka “hominid” terdahulu ditemukan, semua itu akan berkumpul jadi anatomi mirip simpanse, berdasarkan kesamaan genetika manusia dan kera. Namun fosil “Ardipithecus ramidus” tidak mendukung dugaan itu.

Kerangka “Ardi” cukup lengkap –tengkorak, gigi, tulang panggul, kaki, paha, lengan dan tangan– untuk memperkirakan tinggi dan berat tubuhnya. “Ardi” berjalan dengan dua kaki di tanah, tapi memanjat pohon dan juga menghabiskan waktu mereka di sana, dan barangkali adalah pemangsa segala.

Sesuatu yang mengejutkan ialah “Ardi” dan temannya tidak memiliki bagian tubuh seperti kera atau gorila, tapi lebih mirip dengan kera yang punah atau bahkan monyet, dan kedua tangannya juga tidak mirip tangan simpanse atau gorila, tapi lebih berkaitan dengan kera yang punah sebelumnya.

Banyak ilmuwan mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa “hominid” dan kera afrika, masing-masing, memiliki jalur evolusi yang berbeda, dan “kita tak lagi dapt menganggap kera sebagai ‘wali’ bagi nenek moyang terakhir bersama kita”.

“Temuan (Charles) Darwin sangat bijaksana mengenai masalah ini,” kata Tim White dari University of California Berkeley, yang membantu memimpin tim penelitian tersebut.

“Darwin mengatakan kita harus benar-benar berhati-hati. Satu-satunya cara kita akan mengetahui seperti apa nenek moyang terakhir bersama ini dan menemukannya. Yah, pada 4,4 juta tahun lalu, kita menemukan sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Dan, persis seperti Darwin menghargai evolusi garis kera dan garis manusia telah berjalan secara terpisah sejak jalur itu terpisah, sejak nenek moyang terakhri bersama yang kita miliki,” kata White.

ant/fid

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…