Sabtu, 3 Oktober 2009 20:19 WIB Solo Share :

Ribuan warga saksikan kirab batik Solo Membatik Dunia

Solo (Espos)–Di perempatan Pasar Pon, seorang bocah berbaju batik tiba-tiba berlari menarik lengan ibunya ketika peluit kereta uap Kluthuk Jaladara terdengar melengking dari arah barat. Dengan susah payah, bocah bertubuh tirus itu mencoba menyibak kerumuman manusia yang menyemut di sepanjang Jalan Slemet Riyadi Solo, Sabtu (3/10). Dan seperti menyambut kemenangan pasukan dari medan pertempuran, ribuan manusia itu seketika bersorak sorai seiring dengan bunyi peluit Jaladara yang tak henti meliuk-liuk di udara.

“Sebentar lagi, Le, kirab batik lewat sini!” tutur ibu bocah itu, Puji Astuti dengan mata berbinar. Senja pun perlahan kemerahan mengantar iring-iringan pasukan bendera merah putih yang berjalan tegap pada barisan terdepan. Di belakangnya, ribuan iring-iringan batik mengular panjang bak gelombang lautan dengan aneka rupa. Ada yang berkebaya, ada yang berikat kepala, ada pula yang dikenakan pada kuda andong, hingga sekadar dibalutkan pada ujung tombak. Bahkan, motif kain batik pun juga disapukan ke wajah peserta kirab seakan kirab bertajuk Solo Membatik Dunia itu benar-benar ingin diejawantahkan dalam nafas dan jiwa mereka sehari-hari.

Wika Wicaksana, bocah asal Mojosongo, Jebres itu pun kembali tenggelam dalam kerumuman manusia yang gegap gempita menyambut acara penghargaan dari UNESCO kepada Indonesia atas warisan dunia batik.

Sungguh, kirab batik yang menjadi warisan dunia itu benar-benar memukau. Bukan saja karena dipadati ribuan pengunjung yang rela menanti di jalan utama Kota Bengawan sejak pukul 02.30 WIB. Namun, slogan Solo Kreatif yang selama ini dikumandangkan memang terbukti benar adanya. Lihat saja, wajah-wajah yang berseri dari ribuan peserta kirab serta antusiasme penonton berbaju batik yang membludak seakan mencerminkan harapan besar akan lestarinya heritage dunia berupa batik di Kota Budaya ini.

“Saya memang sengaja datangkan siswa-siswi untuk menyaksikan kirab batik di sini. Harapa saya hanya satu, yakni untuk mendidik kepada generasi masa depan bahwa batik adalah pusaka dunia milik bangsa kita,” ujar salah satu guru SMP swasta di Solo yang enggan disebutkan namanya itu penuh kekaguman. Kekaguman inilah yang barangkali disinggung oleh Prof Dr Dharsono, para ilmu batik dari UNS dalam acara sarasehan di Ndalem Wuryaningratan, Jumat (2/10) malam.

Dalam kesempatan itu, Dharsono melemparkan pertanyaan cukup segar kepada pengunjung.

“Kenapa batik hingga kini tak ditemukan siapa penciptanya pertamakali?” tanya Dharsono. Jawabannya, kata dia, ialah karena para pecipta batik zaman dahulu adalah orang-orang yang berkreasi untuk mengejawantahkan keindahan Tuhan yang terhampar di alam ini.

“Itulah sebabnya motif batik zaman dahulu selalu bernafaskan alam. Karena, pembatik zaman dahulu selalu ingin menangkap cahaya Tuhan melalui alam lantas mereka lukiskan dalam bentuk batik,” paparnya.

Karena keindahan hanya milik Tuhan itulah, kata Dharsono, maka para pembantik zaman dahulu tak ingin mengaku-aku keindahan itu sebagai keindahan milik mereka.

asa

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…