Jumat, 2 Oktober 2009 19:51 WIB News Share :

Wartawan dilarang meliput keluarga Urwah

Kudus–Semua wartawan dari media cetak dan elektronik dilarang meliput keluarga Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pascapemakaman jenazah Urwah, di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jumat.

Larangan tersebut, terlihat jelas dari tulisan yang ditempel di dinding rumah keluarga Urwah dan tembok milik tetangga yang berada dekat dengan jalan desa, berbunyi, “mohon maaf wartawan media cetak dan elektronik dilarang masuk, area ini tidak ada izin peliputan”.

Selain terpampang tulisan dengan huruf besar, terdapat pula tulisan dalam huruf kecil yang berbunyi, “Maaf area bebas wartawan”.

Sejumlah wartawan yang meliput di kediaman Urwah, memperkirakan tulisan tersebut baru dipasang pada Kamis (1/10) malam.

“Seingat saya, ketika meliput di kediaman keluarga Urwah pada Kamis (1/10) siang, tulisan larangan meliput bagi semua wartawan tersebut belum ada. Dimungkinkan, pemasangan dilakukan pada malam hari,” ujar salah seorang wartawan media elektronik, Biwara Manunggal.

Ia mengaku, memahami kondisi keluarga Urwah. “Apapun keinginannya, tetap harus dihormati karena menyangkut privasi keluarga,” ujarnya.

Pernyataan senada juga diungkapkan warga sekitar, Eko,37, mengatakan, pihaknya baru mengetahui adanya tulisan larangan bagi wartawan untuk meliput hari ini (2/10).

 “Hari kemarin, memang belum terlihat ada larangan bagi wartawan untuk meliput,” ujarnya.

Menurut dia, keluarga Urwah memang menginginkan ketenangan dan tidak mau dimintai keterangan oleh para wartawan setelah jenazahnya dimakamkan Jumat pagi, sekitar pukul 08:00 WIB.

“Mungkin, saat ini kesempatan bagi keluarga Urwah untuk berhenti diwawancarai oleh para wartawan terkait dengan kematian anaknya,” ujarnya.

Apabila kondisi tersebut dialami dia, pihaknya juga akan mengambil tindakan serupa. “Keluarga Urwah tentu masih menyimpan kesedihan karena salah seorang anaknya meninggal. Terlebih, dengan status yang disandang almarhum juga ikut menambah kesedihan mereka. Wartawan tentu harus memahaminya,” ujarnya.

Pernyataan senada juga diungkapan oleh tetangga Isman (ayah Urwah), Kodar, 30, mengatakan, larangan wartawan meliput merupakan hal yang wajar. “Wartawan tentu harus menghormati privasi keluarga Isman. Apalagi, almarhum anaknya meninggal dengan status yang membuat keluarganya terpukul,” ujarnya.

“Semua orang tentu tidak menginginkan anaknya terlibat dalam jaringan teroris,” ujarnya.

Ia berharap, keinginan keluarga Isman untuk tidak diwawancarai wartawan dihormati dan dihargai, karena sejak ada informasi Urwah meninggal, setiap saat banyak wartawan yang datang meliput ke keluarga Isman.

Sementara itu, Kepala Desa Mijen Sujono berharap, kasus warganya terlibat dengan jaringan teroris cukup hanya sekali. “Mudah-mudahan tidak terulang lagi,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan keluarga Isman melalui perwakilannya Abdul Halim yang menjabat sebagai Modin Desa Mijen, dalam memimpin doa ketika memakamkan jenazah Urwah Jumat pagi, juga meminta maaf kepada semua masyarakat.

“Apabila almarhum melakukan kesalahan selama hidup, saya sebagai perwakilan keluarga memohonkan maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya.

Selama ini, perwakilan keluarga yang sering diwawancarai wartawan dari media cetak dan elektronik adalah Taufiq Ahmad, mengingat Isman sejak awal enggan dimintai keterangan soal anak nomor tiganya, karena sedang berduka. 
Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…