Jumat, 2 Oktober 2009 15:18 WIB News Share :

Luas lahan di Lawu yang terbakar capai 1.300 Ha

Surabaya--Perum Perhutani sedang menghitung nilai kerugian yang diakibatkan oleh peristiwa kebakaran hutan di Gunung Lawu, yang berada di perbatasan wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Kami sedang menghitung nilai kerugian materi. Yang pasti, kerugian terbesar adalah kerugian lingkungan,” kata Direktur Utama Perum Perhutani, Upik Rosalina Wasrin, di Surabaya, Jumat (2/10).

Menurut dia, yang terbakar di kawasan Gunung Lawu itu adalah hutan lindung yang keberadaannya untuk melestarikan lingkungan di sekitarnya.

“Data terakhir yang kami peroleh, luas lahan yang terbakar itu mencapai 1.300 hektare,” katanya saat ditemui di Gedung Negara Grahadi.

Pihaknya sedang meminta bantuan pihak kepolisian untuk menyelidiki kebakaran hutan yang diduga akibat balon udara yang diluncurkan masyarakat, Senin (28/9) lalu itu.

“Kami melihatnya ada kelalaian. Tetapi kami tidak tahu, siapa yang berbuat lalai itu,” katanya setelah menyaksikan penandatanganan kerja sama penanaman hutan kembali antara Perum Perhutani dan sejumlah kepala daerah di Jawa Timur itu.

Awalnya, yang terbakar hanya seluas 600 hektare. Namun, karena kencangnya embusan angin dan petugas kesulitan memadamkan api, kebakaran tersebut meluas hingga seluruh lahan yang terbakar mencapai 1.300 hektare.

“Informasi terakhir yang kami terima, api sudah berhasil dipadamkan Jumat dini hari tadi sekitar pukul 02:00 WIB,” kata Upik didampingi Wakil Kepala Perum Perhutani Unit II Jatim, Eddy Djanad, itu.

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan terima kasihnya kepada para kepala daerah yang bersedia menandatangani nota kerja sama untuk melakukan penanaman hutan kembali di wilayahnya.

“Kami ini perusahaan umum, untuk itu butuh keterlibatan masyarakat terutama yang tinggal di kawasan hutan. Masyarakat bisa menanami lahan hutan dengan tanaman, seperti sengon, jagung, bahkan kalau perlu tanaman jati,” katanya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…