Kamis, 1 Oktober 2009 11:26 WIB News Share :

Aktivitas perkantoran dan sekolah di Padang lumpuh

Padang–Berbagai kegiatan masyarakat seperti perkantoran, baik kantor pemerintah maupun swasta, serta sekolah-sekolah di Kota Padang, Kamis (1/10), terhenti, menyusul gempa berkekuatan 7,6 skala richter yang melanda Sumatra Barat pada Rabu (30/9) sore.

Dari pantauan, berbagai aktivitas kehidupan di Kota Padang dan sekitarnya masih lumpuh, karena sebagian masyarakat memilih berada di sekitar kediaman mereka, baik yang rumahnya rusak parah maupun rusak ringan.

Sebagian masyarakat mulai membersihkan puing-puing reruntuhan rumah mereka, dan mencari barang-barang yang masih bisa dipakai.

Di sepanjang jalan, masyarakat juga banyak yang mendirikan tenda darurat di lokasi yang tidak jauh dari rumah mereka. Pada Rabu (30/9) malam, usai gempa, sebagian besar warga memilih tidur di luar rumah dan tidak berani berada di dalam rumah atau bangunan.

Karyawan dan pegawai negeri di kantor-kantor pemerintah serta swasta, hampir tidak ada yang masuk kantor. Sekolah-sekolah pun meliburkan siswanya untuk waktu yang belum ditentukan.

Demikian pula aktivitas di sejumlah pasar, belum sepenuhnya normal dan sebagian besar masih tutup.

Sementara itu, banyak orang yang masih berbondong-bondong menuju tempat yang lebih tinggi yakni arah Kampus Universitas Andalas di kawasan Limau Manis, Kota Padang, karena takut terjadi tsunami.

Akibatnya, jalan menuju arah Universitas Andalas macet total karena dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat, serta masyarakat yang berniat menyelamatkan diri dari kemungkinan terjadinya tsunami.

Padahal, Tim Penerangan Pemda setempat sudah berulang kali memberitahukan kepada warga setempat melalui kendaraan keliling dengan pengeras suara, bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terjadi tsunami.

Meski demikian, banyak ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka, berikut tas besar berisi pakaian, tetap bersikeras menuju kawasan yang lebih tinggi.

Di sepanjang jalan menuju Kampus Universitas Andalas, sejumlah bangunan dan rumah nampak runtuh.

Empat bangunan ruko di kawasan Simpang Haru, sekitar lima km dari Kampus Universitas Andalas, yakni “dealer” sepeda motor, toko swalayan, studio foto dan sebuah lembaga pendidikan, runtuh.

Di kawasan itu, sebuah Masjid Muhammadiyah berlantai dua juga ambruk rata dengan tanah.

Sedangkan gedung Rektorat IAIN Imam Bonjol di kawasan Lubuk Lintah, Padang, bergeser dari tempatnya semula sehingga sulit untuk digunakan kembali.

Beberapa gedung di Universitas Negeri Padang di kawasan Air Tawar, dan kampus Universitas Andalas juga mengalami kerusakan yang cukup berat.

Hotel Bumi Minang di Pantai Padang, juga dilaporkan bahwa kondisinya sudah bergeser dengan kaca-kaca gedung banyak yang pecah.

Sedangkan Masjid Raya Ganting yakni masjid tertua berlantai dua di Kota Padang, mengalami kerusakan dan sebagian bangunan lantai dua runtuh.

Jaringan listrik dan saluran air minum PDAM di Kota Padang terputus. Sedangkan saluran telepon di sebagian Kota Padang juga masih mengalami gangguan.

Para pemilik kendaraan bermotor juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), karena sebagian SPBU tutup dan hanya satu dua saja yang masih beroperasi.

Untuk mengatasi kekurangan makanan, sejumlah warga seperti di Kelurahan Nunduring, Lubuk Lintah, Padang, mendirikan dapur-dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan para korban gempa.

Sementara itu, Wali Kota Padang Fauzi Bahar telah mengimbau aparatnya, satpol PP dan para mahasiswa, untuk ikut membantu mengevakuasi korban yang masih tertimbun reruntuham.

Selain itu, Fauzi Bahar juga memerintahkan aparatnya dari tingkat provinsi, hingga tingkat kecamatan dan desa dan untuk memberikan bantuan kepada masyarkat yang membutuhkan pertolongan.

ant/fid

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…