Selasa, 29 September 2009 19:52 WIB News Share :

Polri
Jaringan teroris bentuk sel baru

Jakarta–Jaringan teroris di Indonesia diduga akan membentuk sel-sela baru menyusul tewasnya salah satu buronan terorisme yakni Noordin M Top di Solo, Jawa Tengah, 17 September 2009, kata Penyidik Utama Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Kombes Pol Petrus Reinhard Golose.

Ia mengatakan hal itu dalam keterangan pers bersama Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Nanan Soekarna dan penyidik utama lainnya Kombes Pol Tito Carnavian di Jakarta, Selasa (29/9).

Menurut Golose, sel-sel baru tumbuh sebab anggota jaringan teroris terus menjalin hubungan dengan jaringan yang sama berskala internasional melalui jaringan internet.

Ia menyebutkan, pengungkapan kasus ledakan Bom Ritz-Carlton dan JW Marriot juga membuktikan adanya jaringan sel baru disamping jaringan Noordin M Top yang terlebih dahulu muncul.

Buronan kasus ledakan bom di kedua hotel itu yakni Syaifuddin Zuhri diduga telah membangun jaringan baru.

“Dalam kasus-kasus yang sama sebelumnya, sel-sel semacam SZ (Syaifuddin Zuhri) belum ada,” kata Golose yang kini menjabat sebagai Kepala Unit Cyber Crime Direktorat Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri.

Dalam ledakan di kedua hotel itu, Syaifuddin berperan sebagai orang yang merekrut dua pelaku bom bunuh diri yakni Dani dan Nana.

Bahkan, Syaifuddin juga memberikan “fatwa” kepada keduanya bahwa menjadi pelaku bom bunuh diri adalah “mati syahid” yang akan langsung masuk “surga”.

Dalam pengungkapan kasus itu, Polri juga menemukan fakta baru yakni bahwa serangan bom akan dilaksanakan secara beruntun dan bukan dilakukan secara satu per satu.

Pasca ledakan bom di kedua hotel itu, jaringan teroris telah menyiapkan serangan baru dengan sasaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bahkan, kelompok teroris telah mempersiapkan bom mobil yang didatangkan dari Solo selain menemukan bom siap diledakkan di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

Dalam penggerebekan di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, polisi juga menemukan 200 kg bahan peledak yang belum diramu menjadi bom aktif.

Adanya bahan peledak itu juga membuktikan bahwa mereka juga akan mempersiapkan serangan berikutnya.

Polisi meyakini bahwa bahan peledak itu segera diracik menjadi bom karena ada di Ario Sudarso, peracik bom Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriot yang ikut tewas dalam penggerebekan.

“Pola serangan secara serial ini berbeda dengan sebelumnya. Dulu, mereka meledakkan bom lalu diam selam satu tahun. Menyerang lalu diam. Ini terbukti dengan bom Bali 2002, Atrium 2003, Kedubes Australia 2004 dan Bali 2005.

ant/fid

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…