Senin, 28 September 2009 20:07 WIB Sukoharjo Share :

Pembakar hutan liar merajalela, empat titik api terpantau

Sukoharjo (Espos)–SAR Sukoharjo saat ini telah memantau sedikitnya empat titik api di wilayah hutan sementara satu titik lagi akan dicek pada Senin (28/9) siang.

Makin meluasnya titik api di hutan tersebut ditengarai SAR dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Berdasarkan catatan SAR, jumlah titik api yang awalnya hanya tiga yaitu di Kamal, Bulu sekarang sudah berkembang menjadi lima titik api – masing-masing ada di wilayah Puron, Bulu dan terakhir di Gentan, Bulu.

Untuk titik api yang terakhir, SAR memang belum membuktikan kebenarannya melainkan hanya informasi dari masyarakat.

Wakil Komandan SAR Sukoharjo, Muchlis menjelaskan, pihaknya saat ini memang telah memantau empat titik api di wilayah hutan yang daerahnya tergolong tinggi yaitu di bukit atau gunung.
Sementara berdasarkan laporan yang masuk pada Senin pagi, ada satu titik api tambahan tepatnya di Gunung Batuk Semar, Gentan Bulu. Muchlis menambahkan, pihaknya berencana melakukan pengecekan pada siang harinya.

Berdasarkan hasil investigasi SAR maupun informasi warga, imbuh Muchlis, muncul dugaan bahwa titik api tersebut dilakukan secara sengaja oleh oknum. Mereka yang melakukannya adalah para pengrajin arang yang merambah hutan untuk mencari bahan baku. Selain pengrajin, para pelaku pembakaran kayu di hutan adalah warga miskin yang membutuhkan bahan bakar dari kayu sebagai substitusi bahan bakar dari minyak tanah atau elpiji.

“Berdasarkan pantauan kami, hampir semua titik api disebabkan pengrajin arang. Mereka sengaja masuk ke hutan untuk mencari bahan baku. Sementara kalau titik api lain disebabkan warga mencari bahan bakar pengganti minyak tanah serta elpiji yang harganya relatif mahal,” jelas Muchlis ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Senin.

Makin meluasnya titik api di hutan, menurut Muchlis, bukan hanya menyebabkan bahaya kebarakan namun juga bahaya banjir ketika musim hujan tiba.
Pasalnya, bagian hutan yang gundul tidak bisa menahan laju air hujan yang jatuh ke tanah. Akibatnya, bisa dipastikan yang menjadi korban adalah warga yang tinggal di bagian bawah.

aps

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…