Senin, 28 September 2009 20:14 WIB Pendidikan Share :

GTT/PTT pertanyakan pencairan tunjangan fungsional

Solo (Espos)–Sejumlah guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) di Kota Solo mempertanyakan pencairan tunjangan fungsional yang molor hingga enam bulan dari ketentuan.

Hal itu diungkapkan Ketua Persatuan Guru Karyawan Swasta Indonenesia (PGKSI) Solo, Asmuni SAg saat ditemui Espos, Senin (28/9), di SDI Cokroaminoto.
Menurut Asmuni, sedianya tunjangan fungsional dari pemerintah pusat senilai Rp 200.000 per bulan bisa turun setiap tiga bulan sekali.

Akan tetapi, hingga akhir September ini, tunjangan fungsional baru turun bulan Januari hingga Maret saja. Dengan demikian, tunjangan fungsional selama enam bulan sisanya pencairannya molor hingga kini.
“Kami tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal, kami sudah diminta mengajukan Spj (Surat Pertanggungjawaban-red) jauh-jauh hari sebelum bulan puasa,” papar Asmuni.

Pengalaman tahun lalu, lanjut Asmuni, keterlambatan pencairan tunjangan fungsional tidak melebihi satu bulan dari waktu yang telah ditentukan.

Menurutnya, selama ini pihaknya banyak menerima keluhan dari GTT/PTT terkait keterlambatan tunjangan fungsional itu. Dalam hal ini, sebenarnya para GTT/PTT menginginkan tunjangan fungsional bisa turun sebelum lebaran lalu mengingat tingginya beban kebutuhan hidup menjelang hari raya itu.

“Banyak teman-teman kami yang merasa kecewa karena keterlambatan itu. Mereka menyayangkan persoalan ini selalu terulang setiap tahunnya,” tandas Asmuni.

Asumuni menambahkan, atas keterlambatan itu, pihaknya mendesak pemerintah pusat mencairkan tunjangan untuk enam bulan yakni April hingga September.

Ia menilai, tunjangan fungsional itu merupakan hak bagi GTT/PTT, dengan demikian, pihaknya merasa perlu mengupayakan agar hak itu bisa terwujud.

m82

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoaks dengan Logika

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (20/6/2017). Esai ini karya Rahmi Nuraini, alumnus Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang. Alamat e-mail penulis adalah rahminoer@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Kampanye untuk menghentikan berita bohong atau hoaks yang mengandung fitnah dan ujaran kebencian di…