Senin, 28 September 2009 20:10 WIB Sragen Share :

Aksi penolakan pemakaman jenazah diduga teroris berlanjut

Sragen (Espos)–Aksi penolakan warga Desa Jetis Karangpung, Kalijambe, Sragen, terkait rencana pemakaman jenazah tersangka teroris yang tewas dalam penggrebekan di Mojosongo, Jebres terus berlanjut.

Warga justru kini menuntut dilakukannya penutupan lokasi pemakaman desa setempat yang selama ini digunakan untuk mengubur jasad tersangka teroris. Kalangan warga tidak ingin desanya dicap sebagai tempat pembuangan jenazah tersangka teroris.

Bahkan sejauh ini warga masih terus berjaga-jaga memblokir jalan masuk desa sebagai sikap penolakan terhadap rencana pemakaman jenazah tersangka teroris tersebut.

Koordinator aksi warga Desa Jetiskarangpung, Widodo kepada wartawan di Sragen, Senin (28/9) mengatakan, warga memang telah sepakat untuk menolak rencana pemakamaan tersangka teroris di wilayahnya.

Tidak hanya itu, warga juga menuntut salah satu makam yang selama ini digunakan untuk menguburkan jenazah warga dari luar dan dinyatakan sebagai tersangka teroris segera ditutup.

Tuntutan tersebut sudah menjadi kesepakatan warga yang tidak ingin kecolongan lagi wilayahnya digunakan untuk mengubur jenazah orang yang tak dikenal dari luar daerah.

“Tuntutan itu baru secara lisan. Saat ini warga masih konsentrasi berjaga di jalan masuk areal pemakaman, jangan sampai kecolongan ada pemakaman jenazah tak dikenal lagi,” ujarnya.

Widodo menuturkan alasan tuntutan warga untuk menutup areal pemakaman tersebut lantaran secara hukum status tanah merupakan tanah pertanian dan bukan untuk tanah makam. Apalagi status wakaf areal pemakanan tersebut juga tidak jelas. Selama ini, dia menilai pemakaman jenazah di pemakaman tersebut tidak pernah meminta izin warga setempat.

Padahal semestinya untuk mengubur jenazah harus dikenakan restribusi bedah bumi atau uang kas gali kubur.

“Nah selama ini pemakaman yang dilakukan tidak pernah atas sepengetahuan warga dan tidak pernah minta izin.  Selain itu, dampak sosial pemakaman tersangka teroris membuat warga setempat trauma. Bahkan saat pemakaman jenazah sebelumnya, ada warga desa sini yang sempat menjadi korban pemukulan sekelompok massa dari luar daerah,” jelas Widodo.

Hingga kini, ratusan warga Desa Jetis Karangpung masih terus berjaga-jaga siang dan malam pada akses jalan masuk kampung. Penjagaan itu dilakukan warga sebagai antisipasi agar tidak terjadi kecolongan lagi ada pemakaman jenazah dari luar daerah yang dimakamkan di desa setempat.

Selain siaga, warga juga memasang spanduk yang isinya tentang penolakan pemakaman tersangka teroris di desa tersebut.

isw

lowongan kerja
lowongan kerja Kantor SD Aisyiyah Gemolong, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…