Minggu, 27 September 2009 19:01 WIB Solo Share :

Puncak Pekan Syawalan TSTJ meriah

Solo (Espos)–Seekor gajah melangkah penuh wibawa membelah kerumunan manusia yang menyemut di sepanjang jalan menuju segaran Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Sementara ribuan pasang mata yang memadati tepian segaran itu seperti tak berkedip menatap para penari jelita di atas perahu gethek dengan rambut terurai.

Sesaat kemudian, seorang penari dari ISI Solo, Heru yang didapuk Joko Tingkir berlayar dengan perahu gethek ke tengah segaran seorang diri. Perjalanan sunyi Joko Tingkir mencari jati diri pun dimulai.

“Penari-penari itu adalah simbol godaan yang harus dilalui Joko Tingkir dalam perjalanan hidupnya,” terang Hanindawan, sutradara pementasan fragmen Joko Tingkir yang memuncaki Pekan Syawalan TSTJ, Minggu (27/9). Hidup, kata Hanindawan, memang tak kan sepi dari godaan termasuk dalam pribadi setiap insan. Dan dalam drama itu, tergambar dengan jelas begitu teguhnya hati Joko Tingkir melawan setiap godaan yang datang.

Joko Tingkir sebagaimana dikisahkan dalam cerita rakyat, akhirnya berguru kepada Sunan Kalijaga setelah berhasil melewati Sungai Kedung Srengenge. Perjalanan hidupnya pun dipungkasi sebagai Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang antara tahun 1549-1582. “Kisah ini sudah sangat popular di telinga masyarakat. Namun, sebenarnya kisah ini adalah cermin perjalanan hidup kita setiap hari yang selalu bertarung melawan angkara murka dalam diri,” urai pria yang juga pegiat Taeter Gidag-Gidig itu.

Terlepas dari segala kekurangan, puncak Pekan Syawalan TSTJ kali ini memang layak diacungi jempol. Bukan saja karena pementasan fragmen Joko Tingkir yang baru kali pertama digelar bak drama kolosal di segaran. Namun, membludaknya pengunjung hingga membuat parkiran kendaraan menyeruak ke jalan-jalan dan kolong jembatan Solo-Karanganyar itu seolah bukti bahwa Pekan Syawalan TSTJ masih menyimpan magnet bagi warga Soloraya. Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang hadir dalam acara itu juga tak kuasa menyembunyikan kebangganya pada salah satu aset berharga milik Pemkot Solo itu.

“Ke depannya TSTJ harus dikelola lebih serius lagi agar menjadi lokasi wisata kebanggaan warga,” paparnya.

Menurut salah satu panitia bagian promosi, Rini Utari, jumlah total pengunjung berdasar tiket yang masuk hingga pukul 13.00 WIB telah menembus 75.000 tiket. Angka ini memang belum mencapai target yang diharapkan, yakni 100.000. Namun, jika mengingat jumlah pengunjung sehari sebelumnya yang belum genap 50.000 orang, maka angka ini terbilang cukup fantastis.
asa

lowongan kerja
lowongan kerja sopir dan karyawati toko, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Bukan Penerus Sastra Jawa Modern

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (22/7/2017). Esai ini karya Bisri Nuryadi, seorang guru Bahasa Jawa dan pembaca setia Rubrik Jagad Jawa Solopos. Alamat e-mail penulis adalah bisrinuryadi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Wong Jawa patut berterima kasih kepada Ki Padmasusastra (1843-1926), bapak…