Minggu, 27 September 2009 20:42 WIB Solo Share :

Peluncuran Sepur Kluthuk diabadikan dalam perangko

Solo (Espos)–Bunyi ketel uap serupa bunyi cerek air yang tengah mendidih ditingkahi bunyi lonceng seketika membelah udara pagi seiring ditariknya selubung kain hitam yang menaungi rangkaian dua gerbong kereta antik dari kayu yang diparkir di rel di depan rumah dinas Walikota Solo Loji Gandrung, Minggu (27/9). “Tuuuuuuttttttt….teng teng teng!!!!”.

Seketika itu pula ribuan pasang mata terarah pada wujud hitam besar di depan dua gerbong itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah lokomotif uap kuno buatan Jerman tahun 1896 dan merupakan penggerak Sepur Kluthuk Jaladara. Ya, itulah nama yang disematkan kepada kereta wisata berlokomotif uap yang beroperasi di rel yang membelah Kota Solo.

Berdasarkan filosofinya, kereta Jaladara adalah kereta pusaka milik dewa yang diberikan kepada Raden Narayana atau Prabu Kresna untuk menjadi kendaraan saat dipergunakan membasmi angkara murka. Dengan nama itu diharapkan kereta wisata bisa memberikan kebahagiaan, kesejahteraan, dan membawa penumpangnya dengan selamat dalam kondisi apapun.

Meski sudah beroperasi sekitar sepekan ini, rasa penasaran warga terhadap si hitam yang antik itu rupanya belum berkurang juga. Rasa ingin tahu seperti apa sebenarnya kereta yang ramai dibicarakan itu mendorong mereka rela berjubelan di depan Loji Gandrung, tempat digelarnya peresmian kereta wisata uap itu.
Apalagi Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafi’i Djamal sendiri yang hadir meresmikan pengoperasian kereta wisata tersebut.

Menhub Jusman Syafi’i Djamal, dalam sambutannya mengungkapkan pengoperasian kereta wisata uap kuno itu merupakan terobosan yang sangat berani dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dalam bidang perhubungan dan pariwisata. Dia berharap langkah inovatif semacam itu bisa diikuti oleh daerah-daerah lain, khususnya yang memiliki keistimewaan berupa rel kereta api di tengah kota agar memberdayakan potensi tersebut.

“Saya sangat kagum dengan kegigihan Solo mengupayakan pengoperasian kereta wisata ini. Dua tahun Bapak Walikota mengajukan usulan itu, dan baru kali ini bisa terwujud. Ke depan saya berharap kereta ini tidak hanya berjalan dari Purwosari sampai Sangkrah, tapi juga sampai Wonogiri,” kata Jusman.

Setelah peresmian selesai, Jusman bersama rombongan tamu lainnya naik kereta wisata itu dan melaju ke arah timur. Di tengah perjalanan, mereka mampir di Dalem Wuryoningratan, untuk melihat-lihat batik di sana. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan dan berhenti lagi di Bundaran Gladak. Di tempat itu, rombongan disambut oleh rombongan PT Pos Indonesia Solo yang hendak meminta Menhub menandatangani prasasti perangko Prisma bergambar lokomotif uap kuno. Rupanya, PT Pos juga tidak mau ketinggalan untuk turut mempromosikan kereta wisata itu.

“Sebagai salah satu institusi yang dapat menjadi media promosi yang efektif dan edukatif, Kantor Pos Solo ingin memberikan setitik nilai untuk mendukung kegiatan kepariwisataan di samping nilai historinya dengan mengabadikan Solo Steam Loco Tour dalam perangko Prisma,” ungkap Pimpinan Kantor Pos Solo, Ari Parnoto, dalam rilis yang diterima Espos.

shs

lowongan kerja
lowongan kerja Penerbit Ziyad, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…