Minggu, 27 September 2009 21:05 WIB Internasional Share :

80% Area Manila terendam banjir, lebih dari 51 orang tewas

Manila–Sedikitnya 51 orang tewas dan lebih dari 250 ribu orang mengungsi setelah badai tropis Ketsana memicu hujan terhebat di Manila lebih dari empat dekade. Demikian dilansir AFP, Minggu (27/9).

Manila dan daerah di sekitarnya diguyur hujan lebat lebih dari 9 jam pada Sabtu (26/9). Air lalu membanjiri 80 persen wilayah ibukota dan lebih 12 juta warga.

Air bah itu meninggi hingga 20 kaki (lebih 6 meter), memaksa sejumlah keluarga mengungsi ke atap rumah dan pemerintah pun menetapkan ‘keadaan bencana’.

Jalanan besar berubah menjadi sungai yangn menyapu mobil-mobil dan rumah-rumah. Video yang diambil dari helikopter militer menunjukkan para warga terlihat menderita di atap-atap rumah mereka, mengharap makanan dan bantuan.

Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro yang memimpin upaya penyelamatan menyatakan, 51 orang saat ini dinyatakan tewas dan sedikitnya 21 orang hilang.

Lebih dari 4.000 orang diselamatkan menggunakan helikopter atau perahu karet. Namun banyak di antara mereka yang masih terjebak banjir.

Teodoro menyatakan, badai itu memaksa 280 ribu orang di Manila dan 5 provinsi terpencil lainnya mengungsi. Mereka tesebar di 92 pusat evakuasi.

Ketika hujan untuk sementara berhenti, Teodoro menyatakan banjir mungkin akan menyerang provinsi di bagian utara karena saluran air dan dam tak mampu menampung arus air.

Listrik dan saluran komunikasi mati di banyak daerah akibat musibah ini. Beberapa orang di antaranya berhasil berkomunikasi dengan stasiun radio publik dan menceritakan kondisi mereka yang memprihatinkan.

Ketua Palang Merah setempat Gwendolyn Pang menyatakan, petugas penyelamat bekerja keras mencapai sejumlah wilayah, sementara banyak jalanan yang tidak bisa ditembus.

“Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Nyaris 80 persen kota metropolitan Manila terendam,” ujar Pang.

Dinas BMKG setempat menyatakan, hujan 9 jam pada Sabtu kemarin lebih tinggi dari curah hujan rata-rata bulanan. Curah hujan 9 jam itu mencapai 410,6 milimeter, melebihi rekor curah hujan satu hari pada Juli 1967 sebanyak 334 milimeter.

Banjir tersebut mengalir sangat deras sehingga orang yang mengungsi harus berjalan memegangi tali yang diikatkan petugas ke tempat yang kuat seperti yang terlihat di foto.
dtc/tya

STAFF MARKETING, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
”Despacito” dan Nasib Lagu Sejenis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/8/2017). Esai ini karya Damar Sri Prakoso, Program Director Radio Solopos FM. Alamat e-mail penulis adalah damar.prakoso@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah melarang pemutaran lagu Despacito di lembaga penyiaran publik…