260909ahtenane
Sabtu, 26 September 2009 19:10 WIB Ah Tenane Share :

Sandal slenco

260909ahtenaneSiang itu Lady Cempluk dan suaminya, Tom Gembus, yang tinggal di Klaten ini kepingin menikmati duren di warung lesehan pinggiran Boyolali. Karena hari itu berbarengan dengan acara arisan, maka mereka pun mampir sebentar ke rumah Gendhuk Nicole, tempat arisan. Setelah arisan selesai, Cempluk dan Gembus segera meluncur ke Boyolali.
Sesampai di warung duren langganannya, mereka berdua langsung melahap duren dengan nikmatnya. Tak terasa waktu sudah hampir sore. Lady Cempluk dan Tom Gembus bersiap pulang. Mereka beranjak keluar dari warung. Namun betapa kagetnya Cempluk setelah melihat sandal selopnya hanya ada satu.
”Yu, sampeyan ngerti sandhalku sing siji ana ngendi?” tanya Cempluk pada si penjual duren.
”Lha ten pundi Mbak, kula nggih mboten ngertos.”
Cempluk dibantu suaminya dan bakule duren mencari di sekeliling warung, tapi tidak ada. Di depan warung hanya ada satu sandal jepit sebelah kanan.
Lady Cempluk mulai marah-marah. Ia menuduh suami bakul duren yang tadi datang mengantar duren salah memakai sandal. Bakule duren yang suaminya dituduh pun jadi sewot.
Tom Gembus lalu mengambil sandal jepit yang cuma sebelah itu dan menunjukkannya kepada bakule duren.
”Tamatna sik Yu, iki sandhale sapa?”
Cempluk yang di sebelahnya ikut mengamati dan… badalaaa! ternyata sandal jepit itu ada tulisannya ”Jon Koplo”. Jon Koplo adalah anaknya Gendhuk Nicole.
”Ooo, berarti aku mau kleru nganggo sandhal pas arisan! Wah, sori ya Yu, tiwas nesu,” Cempluk jadi malu sama bakule duren.
Mereka berdua mampir lagi ke rumah Gendhuk Nicole. Sampai di sana mereka sudah disambut tawa kemekelen oleh keluarga Nicole. ”Oalah, nganggo sandhal kok sing kiwa selop sing tengen jepit. Kuwi ora mung selen, ning slenco! Jan kebangeten tenan. Bola-bali nek sikil ora duwe perasaan!” omel Gembus. Kiriman Bryan Adha Elang Praditya, SDN 2 Bulan, Bulan, Wonosari, Klaten.

CV. HARAPAN MULIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Penurunan PTKP

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (4/8/2017). Esai ini karya Muhammad Aslam, seorang praktisi perpajakan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah aslam_boy@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Target penerimaan pajak yang sering tidak tercapai selalu menjadi perhatian khusus pemerintah dari tahun…