Rabu, 23 September 2009 17:21 WIB News Share :

Ratusan warga gelar kirab sesaji Rewanda

Semarang–Ratusan warga Desa Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati Semarang, Rabu, menggelar kirab sesaji Rewanda di objek wisata Gua Kreo sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur kera-kera di tempat tersebut.

Leluhur kera-kera yang dulu berada di Gua Kreo tersebut dianggap telah berjasa membantu Sunan Kalijaga saat akan mencari pohon Jati yang akan digunakan sebagai saka guru atau tiang penyangga Masjid Agung Demak.

Kirab sesaji Rewanda dimulai dari masjid Al Mabrur yang berada di desa tersebut menuju Gua Kreo dengan peserta kirab yang menggunakan pakaian adat Semarangan. Dalam kirab sesaji Rewanda itu, rombongan warga yang berpakaian tradisional membawa tiga tumpeng ukuran besar yang masing-masing berisi buah-buahan, hasil bumi, dan makanan ketupat. Selain itu juga terdapat dua tumpeng kecil yang berisi hasil pertanian dan perkebunan serta bunga Mayang serta replika kayu jati.

Pada barisan terdepan kirab sesaji Rewanda terlihat seseorang yang menjadi pemandu jalan bagi rombongan. Sementara di belakangnya terdapat empat pemuda berpakaian kera dengan warna merah, kuning, putih, dan hitam yang melambangkan unsur api, angin, air, dan tanah.

Sementara pada barisan belakang terlihat beberapa penari dan para penabuh rebana.    Setelah bermacam sesaji Rewanda di doakan secara bersama-sama dengan dipimpin oleh sesepuh desa, ketiga tumpeng berukuran besar akhirnya diperebutkan oleh warga yang mempercayai jika mengambil sesaji tersebut maka akan mendapat berkah.

Sedangkan tumpeng yang berisi buah-buahan dan kacang dibawa menuju ke dalam areal Gua Kreo untuk selanjutnya diletakkan di pinggir jurang agar kera-kera yang menghuni tempat tersebut dapat menikmati sesaji tersebut.

Sesepuh Desa Talun Kacang, Kasmani, mengatakan, tradisi sesaji Rewanda ini bisa dikatakan sebagai napak tilas perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari pohon Jati yang akan digunakan sebagai tiang penyangga Masjid Agung Demak.

“Sebelum Gua Kreo dibuka sebagai objek wisata, tradisi sesaji Rewanda ini hanya digelar secara kecil-kecilan oleh warga sekitar,” katanya.

Namun, lanjut dia, sejak tempat ini dibuka sebagai objek wisata pada 1997, tradisi ini digelar secara besar-besaran sebagai atraksi budaya dan untuk menarik minat wisatawan.

Kasmani menjelaskan, sebagian besar warga di desa tersebut mempercayai bahwa hutan yang berada di kawasan Gua Kreo ini merupakan salah satu tempat terakhir dari perjalanan Sunan Kalijaga saat mencari pohon Jati untuk saka guru atau tiang penyangga Masjid Agung Demak.

Saat menemukan pohon yang dimaksud, pohon tersebut tumbuh pada lokasi yang sulit ijangkau sehingga Sunan Kalijaga bersemedi di dalam sebuah gua yang terdapat di tempat tersebut untuk meminta petunjuk Tuhan agar diberi kemudahan mengambil pohon jati.

Saat sedang bersemedi di dalam gua, Sunan Kalijaga didatangi empat ekor kera yang masing-masing berwarna merah, kuning, putih, dan hitam.Keempat ekor kera itu menyampaikan niat baiknya untuk membantu Sunan Kalijaga mengambil pohon Jati yang berada di lokasi yang sulit dijangkau.

Setelah mendapatkan pohon Jati dengan bantuan keempat ekor kera itu, Sunan Kalijaga akhirnya memotong pohon Jati menjadi dua bagian.     Salah satu bagian ditinggal di dalam sungai yang berada di sekitar lokasi dan satu bagian lagi dibawa ke Masjid Agung Demak sebagai tiang penyangga.

“Oleh karena itu, sebagai balasan atas jasa baik keempat ekor kera tersebut, Sunan Kalijaga memberi kewenangan untuk ‘ngreho’ atau ‘ngrekso’ yang berarti menjaga kawasan itu. Dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, arti dari sesaji Rewanda ini adalah sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan karena di wilayah Talun Kacang telah diberi tanah yang subur sehingga dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Mengenai adanya rencana pembangunan Waduk Jatibarang yang akan dilakukan untuk pemerintah Kota Semarang dalam waktu dekat di daerah tersebut, Kasmani mengaku tidak ada masalah dengan populasi kera yang ada.

“Saat ini populasi kera di daerah sekitar Gua Kreo mencapai 300-400 ekor kera. Rencana ke depan, kita akan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan untuk menekan atau mengurangi populasi kera yang ada setelah adanya pembangunan Waduk Jatibarang,” ujarnya.

Antisipasi terhadap populasi kera ini dimaksudkan agar jumlah kera yang berada di daerah Gua Kreo sebanding dengan luas wilayah yang akan menyempit setelah ada pembangunan Waduk Jatibarang.

Kasmani menambahkan, antisipasi populasi kera di daerah Gua Kreo dilakukan dengan cara memindahkan kera-kera yang ada ke tempat yang lebih luas dan layak dengan menggunakan jasa pawang kera.
Ant/tya

lowongan kerja
lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ketahanan Psikologis Mencegah Pelajar Bunuh Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/6/2017). Esai ini ditulis Ahmad Saifuddin, dosen di Institut Agama Islam Negeri Surakarta dan Sekretaris Lakpesdam PCNU Kabupaten Klaten. Alamat e-mail penulis adalah ahmad_saifuddin48@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (3/6/2017) saya terkejut ketika membaca Harian…