Rabu, 23 September 2009 16:03 WIB Boyolali Share :

Distanbunhut kesulitan cara tumpas serangan hama tikus

Boyolali (Espos)–Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Boyolali, Juwaris, mengaku belum mendapatkan cara menumpas serangan hama tikus yang merusak puluhan hektare (ha) lahan pertanian di enam kecamatan.
Namun demikian, menurutnya, hewan pengerat tersebut dapat efektif ditumpas menggunakan musuh alami berupa burung hantu.

Seperti pada beberapa tahun sebelumnya, Distanbunhut mengadakan puluhan burung hantu, ketika serangan tikus mengganas.

“Namun belum bisa untuk tahun ini, mengingat pengadaan burung hantu membutuhkan anggaran besar,” katanya, belum lama ini.

Masih menurut Juwaris, pada beberapa tahun silam, pihaknya mengadakan burung hantu jenis Tito Alba yang disebar antara lain di Kecamatan Wonosegoro dan Banyudono.

Saat ini, seluruh burung hantu tidak terpantau keberadaannya. Juwaris juga tidak mengetahui secara pasti ke mana burung-burung bermata lebar itu berada.

Terpisah, salah satu petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Distanbunhut, Iskak Harjono, mengatakan senada, pihaknya pernah mengadakan pemangsa alami tikus berupa burung hantu. Pengadaan musuh alami itu dilakukan pada 1999 dan 2008.

Menurut Iskak, pada 1999 Distanbunhut menyebar 23 pasang burung hantu jenis Tito Alba untuk Karanggede 15 pasang dan Wonosegoro delapan pasang.

Kedua kecamatan tersebut menjadi prioritas, karena saat itu serangan hewan pengerat di dua wilayah tersebut cukup mengkhawatirkan.

Sementara, pada 2008, Distanbunhut kembali menyebar sebanyak 10 pasang burung hantu di Kecamatan Banyudono. Namun, saat ini pihak terkait mengaku tidak mengetahui pasti keberadaan puluhan burung yang didatangkan dari daerah Asahan, Sumatera tersebut.

dwa

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…