Senin, 21 September 2009 14:08 WIB News Share :

Warga berebut Gunungan Syawal Kraton Yogyakarta

Yogyakarta–Ratusan warga Yogyakarta merayah gunungan Gerebeg Syawal Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Namun belum selesai didoakan oleh penghulu Masjid Besar Kauman Yogyakarta, gunungan itu sudah habis dirayah massa.

Prosesi Gerebeg Syawal dilakukan Keraton Ngayogyakarto dilakukan setiap tanggal 1 Syawal Tahun Je 1942 berdasarkan penanggalan Jawa atau bertepatan pada hari Senin (21/9). Sebelum prosesi gerebeg dimulai, Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menggelar acara ngabekten atau sungkeman untuk para abdi dalem laki-laki di Tratag Bangsa Proboyekso.

Dalam acara gerebeg Syawal ini, keraton hanya mengeluarkan satu buah gunungan yakni gunungan lanang. Prosesi dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan ditandai bersiapnya delapan bregada prajurit keraton yang dipimpin adik Sultan, GBPH Yudhaningrat, di depan Bangsal Ponconiti.

Setelah mendapat perintah dari Sultan, dilakukanlah kirab prajurit keraton menuju Pagelaran melewati Siti Hinggil Keraton. Setelah semua prajurit bersiap di depan pagelaran, satu gunungan lanang dikawal prajurit Bugis dan Surokraso dibawa menuju Masjid Besar Kauman. Saat keluar dari pagelaran, prajurit keraton memberikan tembakan salvo sebagai penghormatan sebanyak tiga kali.

Sebelum diperebutkan oleh warga sebagai hajat dalem keraton, gunungan itu dimintakan oleh penghulu serambi masjid. Meski sudah diperingatkan oleh petugas agar gunungan tidak dirayah terlebih, ratusan warga sudah tidak sabar menunggu. Saat ditengah-tengah doa dipanjatkan, gunungan yang terbuat dari aneka sayuran dan hasil bumi itu langsung dirayah warga.

Dalam waktu sekejap gunungan itu habis disikat warga yang ingin ngalap berkah. Beberapa orang yang berhasil naik di atas gunungan langsung menyikat entho-entho atau mustaka yang terbuat dari tepung beras ketan. Beberapa entho-entho ada yang dilemparkan ke arah kerumuman warga.

Warga yang tidak mendapatkan sayuran seperti kacang panjang, lombok dan lain-lain terpaksa hanya mencari sisa-sisa yang terjatuh di tanah. Bahkan bilah bambu yang menjadi penyangga kerangka gunungan pun diambil warga yang dipercayai akan membawa bagi yang memilikinya.
dtc/tya

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…