Minggu, 20 September 2009 17:56 WIB Solo Share :

Warga masih trauma dengan penyerbuan Noordin, suara petasan dikira bom

Solo (Espos)–Kampung Kepuhsari, Jebres yang menjadi tempat penyergapan Noordin M Top terlihat senyap, Minggu (20/9). Hanya terdapat beberapa aparat polisi yang tengah berjaga-jaga di lokasi tewasnya gembong teroris yang paling ditakuti itu.

Sesampainya di jalan Pelangi, mereka menggelar tikar mereka dan duduk sambil  membentuk saf salat. Dalam khotbahnya, pagi itu, Sang khatib Junaidi membahas empat hal yang menjadi ciri-ciri seorang pemimpin yang bertauhid yakni sehat spiritual, sehat mental, sehat intelektual, dan sehat sosial. Drs Junaidi sedikit pun tidak menyinggung atau mengungkit-ungkit peristiwa yang mampu melambungkan nama Mojosongo di mata dunia itu.

“Kami tentu tidak menginginkan hal itu terjadi, tetapi bagaimana lagi, memang kenyataanya demikian. Kami benar-benar tidak menyangka, bahwa di kampung kami menjadi tempat persembunyian teroris yang selama ini menjadi buronan polisi,” papar Ketua RT 03/II Kepuhsari, Mojosongo Jebres, Suratmin kala ditemui Espos seusai melaksanakan ibadah salat Idul Fitri, Minggu (20/9).

Menurut Suratmin, peristiwa berdarah menjelang lebaran itu hingga kini masih membuat warganya trauma. Kini, warga memilih diam daripada memperbincangkan hal itu. Sebab, membincangkan peristiwa itu sama halnya membuka lembaran muram kampung itu. Para warga memilih membicarakan tema lain seperti arus mudik lebaran, hasil dagangan, dan lain sebagainya daripada membincangkan cerita-cerita di balik penyergapan Noordin M Top.

“Kalaupun membicarakan hal itu, paling cuma sebentar karena mereka masih heran mengapa peristiwa itu bisa terjadi di kampung ini,” tutur Suratmin.

Suara ledakan bom dan suara baku tembak semalaman kala itu masih terngiang dalam ingatan warga hingga kini. Tampaknya, rasa waswas masih menggelayuti pikiran mereka. Bahkan, ketika warga mendengar suara petasan yang dinyalakan, mereka tersentak kaget dan merasa waswas. Mereka mengira suara itu berasal dari bom yang meletus.

“Kami menginginkan kampung kami aman-aman saja. Kami masih khawatir, jangan-jangan suara itu adalah suara letusan bom lagi, padahal itu hanyalah petasan,” keluh Suratmin.

m82

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…