Jumat, 18 September 2009 14:29 WIB News Share :

Lebih awal, Salat Id jamaah Rabbani, dibubarkan

Jakarta–Dua ratusan jamaah Rabbani Sufi sudah melantunkan takbir tanda dimulainya salat Idul Fitri sejak pukul 06.30 WIB. Menjelang salat, tiba-tiba puluhan massa teriak-teriak dan berusaha membubarkan jamaah.

“Kita sudah mau siap-siap, sudah mau baca takbir segala macam,” kata salah seorang anggota jamaah, Revaldi saat ditemui detikcom, Jumat (18/9).

Menurut Revaldi, massa mulai datang sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka terdiri petugas kepolisian, ketua RW setempat serta 20-an orang laki-laki.

“Kalau yang bapak-bapak itu sepertinya bukan warga sekitar sini, lebih mirip tukang ojek,” ungkapnya.

Setelah sempat bersitegang selama 30 menit, akhirnya jamaah mengalah dan bersedia membubarkan diri. Mereka mengaku sempat emosi, namun daripada terjadi kericuhan, Revaldi dan kawan-kawannya memilih untuk diam dan membereskan peralatan salat Id yang sudah disiapkan.

“Karena kita kebanyakan anak muda, takut terjadi chaos kalau dituruti,” tegasnya.

Jamaah yang sudah terlanjur menyiapkan hidangan lebaran akhirnya memilih untuk makan. “Bahkan sebagian warga yang datang tadi kita ajak makan juga,” tutupnya.
Anggota jamaah Rabbani Sufi Institute Indonesia menyesalkan pembubaran Salat Id yang dilakukan oleh warga Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Salah satu anggota, Revaldi,28, mengaku keberadaan mereka di situ sudah lama diketahui oleh warga sekitar.

“Kita menyayangkan itu terjadi. Kita sebenarnya nggak mau ada konflik. Sebenarnya warga di sini sudah lama tahu. Kita di sini sudah 2 tahunan dan sering ada kegiatan-kegiatan,” kata Revaldi saat ditemui di lokasi, Jalan Bangau 2 Nomor 18, RT 5 RW 3, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).

Menurut Revaldi, warga sekitar terutama ibu-ibu sudah banyak yang tahu tentang kegiatan yang diselenggarakan jamaahnya. Kegiatan yang sering digelar antara lain zikir dan tari-tarian sufi yang diiringi musik.

Bahkan warga juga sudah tahu mereka sering berbeda dengan pemerintah dalam melaksanakan Lebaran. “Tahun sebelumnya kita lebih awal satu hari dari pemerintah,” aku Revaldi yang berjenggot dan bercelana congklang ini.

Karena itu dia tidak menyangka warga akan membubarkan Salat Id yang mereka gelar. “Kita juga takut karena tadi sempat ada yang teriak ‘bakar! bakar!’. Akhirnya ya sudah. Kita sih fleksibel saja. Kalau memang diminta ikut bareng dengan pemerintah ya kita ikut saja. Salat Id ini kan sunah,” ucapnya.

Revaldi dan kawan-kawannya yang mengaku ajarannya turunan dari ajaran Naqshbandi Rabbani Sufi ini meyakini berdasarkan pemantauan hilal, 1 Syawal jatuh pada Jumat ini. Selain itu mereka juga mulai berpuasa 2 hari sebelum waktu yang ditetapkan pemerintah. Secara total mereka telah berpuasa selama 29 hari.
dtc/tya

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…