Kamis, 17 September 2009 16:51 WIB Sragen Share :

Wilayah krisis air khawatir dropping air minim

Sragen (Espos)–Warga Bumi Sukowati yang tinggal di wilayah krisis air bersih mulai ketar-ketir menyusul pasokan pengiriman air dari pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat terlalu minim.

Padahal kebutuhan air bersih menjelang Lebaran sangat dibutuhkan. Oleh karena itu warga meminta Pemkab segera menggelontorkan tambahan pasokan air bersih ke wilayah tersebut. Sedikitnya empat kecamatan diketahui sudah dilanda krisis air bersih, yakni  Kalijambe, Mondokan, Tangen dan Gesi.

Sejumlah warga yang tinggal di kecamatan tersebut kepada Espos, Kamis (17/9) mengaku mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja terpaksa mencari sumber air hingga pelosok desa lainnya.

Salah satu warga Tangen, Sri Wahono menyebutkan beberapa daerah yang mengalami krisis air bersih di antaranya, Galeh, Jekawal, Katelan dan Tlumun. Berdasarkan catatannya, di Jekawal sedikitnya ada 200 kepala keluarga (KK) yang mengalami krisis air bersih. Sedangkan di Tlumun, Katelan dan Galeh masing-masing 75 KK, 31 KK dan sekitar 32 KK. Ratusan warga ini mulai mengangsu ke tempat-tempat sumber air. Sebab sumur milik warga mulai mongering.

“Warga kini hanya bergantung pada droping air dari Pemkab. Padahal droping airnya sepekan sekali. Warga ingin droping air ditambah lagi,” pintanya.

Sri Wahono menuturkan krisis air bersih terjadi lantaran matinya sumber-sumber air yang ada. Tidak hanya sumur gali yang kering, sumber air permukaan seperti sendang dan sungai pun sudah mulai kering.
“Sekarang banyak warga yang mencari air hingga ke desa lain. Padahal sama kondisinya sudah mulai menipis. Karena itu Pemkab bisa segera bertindak apalagi mau Lebaran,” tegasnya.

Senada diungkapkan warga Desa Jekawal, Panut menambahkan droping air bersih yang dilakukan Pemkab hanya sepekan sekali. Itupun, kata dia, pasokan air yang digelontorkan sangat terbatas.

isw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…