Kamis, 17 September 2009 20:34 WIB Klaten Share :

Keluarga Maruto sempat histeris

Klaten (Espos)–Gencarnya pemberitaan media massa yang menyebutkan bahwa Maruto, laki-laki asal Pakisan, Cawas, merupakan salah satu dari empat teroris yang tewas dalam penyergapan polisi di Mojosongo, Solo, Kamis (17/9) dini hari, membuat pihak keluarga histeris.

Sejak Kamis dini hari hingga siang hari pihak keluarga merasa penasaran dan khawatir. Apalagi pada Kamis siang pihak keluarga didatangi tim dokter kesehatan Polda Jawa Tengah (Jateng) untuk mengambil sampel darah orangtua Maruto. Tim dokter Polda dikawal satu unit patroli Polsek Cawas, Klaten, sehingga sempat menarik perhatian warga sekitar.

Berdasar pantauan Espos, suara tangis pilu Sri Mulyani, perempuan paruh baya isteri dari Sujono, 69, yang merupakan orangtua Maruto, terdengar samar dari ruang tamu, Kamis sekitar pukul 13.30 WIB. Dalam sesaat isakan ibu dari Maruto, laki-laki yang diduga jaringan teroris Noordin M Top itu terhenti.

Namun tak lama berselang, tangisnya kembali meledak, kali ini terdengar lebih keras. “Anakku…anakku…,” desis dia berat di sela-sela untaian air mata yang terus jatuh. Sedangkan suaminya, Sujono, duduk tenang di ruang tamu menemani dua wartawan yang berkunjung. Tak banyak kata terucap. Hanya sesekali saja kalimat-kalimat bernada kepasrahan meluncur lancar dari mulut laki-laki tua itu.

Begitu juga saat diminta tanggapan oleh wartawan mengenai aksi bak koboi yang dilakukan aparat di Mojosongo, Solo, sang ayah tak banyak komentar. “Yang perlu diingat, membunuh orang itu akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Saya tidak tahu persis kronologis penembakan di Solo. Bila terjadi kekeliruan atau pelanggaran prosedur, seperti tahu-tahu diberondong peluru, maka itu pelanggaran hak asasi manusia (HAM),” paparnya.

Tapi akhirnya kekhawatiran Sri Mulyani dan Sujono tidak terbukti. Dari siaran pers Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri Kamis sore diketahui, Maruto tidak termasuk dari empat teroris yang tewas di Solo. “Alhamdulillah..kami anak kami masih hidup,” ujar Sujono singkat yang dihubungi Espos melalui nomor handphone-nya. Menurut dia, isterinya telah kembali tenang begitu mengetahui anaknya masih hidup.
kur

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…