Selasa, 15 September 2009 17:21 WIB News Share :

Lima pengungsi korban gempa mengalami gangguan jiwa

Garut–Lima  pengungsi dampak gempa bumi di kabupaten Garut, Jawa Barat, yang mengalami gangguan jiwa, kini kondisinya semakin parah bahkan sangat mengkhawatirkan.

Kelima pengungsi tersebut warga kampung Pangawaren Desa Pamalayan kecamatan Cikelet, sekitar 115 kilometer  arah Selatan  kota Garut, kata  warga setempat Imas Sumarni, 34, yang langsung melaporkannya kepada Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Garut H Iman Alirahman di Garut, Selasa.

Sumarni, pada diskusi yang terfokus pada evaluasi penanggulangan bencana tahap tanggap darurat, yang juga diselenggarakan Forum Relawan Siaga Bencana se kabupaten Garut, melaporkan pula kelima warganya itu sering berteriak-teriak, mudah marah bahkan sangat temperamental akibatnya pengungsi lain sangat ketakutan.

Dari sekurangnya 525 kepala keluarga (KK) atau 2.100 jiwa pengungsi di wilayah kecamatan Cikelet, terdapat sekitar 162 bayi, 305 balita serta 221 usia lanjut, 200 pengungsi diantaranya kini mengalami sakit parah dan belum sepenuhnya mendapat penanganan yang memadai.

Dalam rangkaian diskusi tersebut mengemuka pertanyaan peserta, tentang mekanisme pemeriksaan teknik konstruksi rumah penduduk yang disyaratkan untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan (IMB), sehingga terdapat bangunan rumah yang berada di lokasi sama namun tak semuanya rusak berat.

Sementara itu Plt Sekda Iman Alirahman mengatakan, kinerja Satlak PBP kabupaten belum sepenuhnya mampu menyelesaikan seluruh persoalan dampak bencana gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter, Rabu (2/9).

Sehingga forum diskusi ini dinilainya sangat penting, untuk menghimpun berbagai kontribusi masukan saran, pendapat, termasuk keluhan langsung dari masyarakat atau perwakilan yang terkena dampak bencana, katanya.

Iman Alirachman mengakui pula, belum selesainya jalinan koordinasi, distribusi bantuan yang tak merata, ketersediaan tenda pengungsi yang terbatas, meski tenda keluarga telah dibagi habis, maka Satlak-PBP perlu terus melakukan evaluasi.

Berbagai keluhan selama inipun dinilainya wajar dan harus diterima dengan penuh pengertian, karena hasil pekerjaan masih belum maksimal.

Karena itu Sekda mengajak kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk saling mengisi dan memberikan alternatif terbaik, bukan saling menyalahkan dan menghujat, karena masyarakat korban bencana sangat mendesak segera memerlukann bantuan, katanya.

Sedangkan mengenai IMB diapresiasi sebagai bahan masukan kedepan untuk disinkronkan. Meski demikian penanganan pasca bencana akan terus diupayakan hingga ke tahapan rehabilitasi, dengan berbagai keterbatasan kemampuan daerah selama ini, karena pemerintah provinsi dan pusat dipastikan memberi bantuan sehubungan telah selesainya kegiatan verifikasi pendataan, ungkapnya.

Ant/tya

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…