Selasa, 15 September 2009 13:49 WIB Ah Tenane Share :

Dikira pembantu

150909ahtenaneKisah nyata ini dialami oleh Pak Jon Koplo, seorang dosen universitas negeri di Solo. Ceritanya, Pak Koplo yang sebenarnya punya mobil di rumahnya itu kadang masih suka naik sepeda onthel ke mana-mana. Alasannya, biar sehat dan hemat.
Nah, suatu sore yang cerah, Pak Koplo ingin pit-pitan ke Taman Balekambang, sebuah taman kota yang baru saja dibikin indah dan asri. Sampai di sana, ia cuma duduk-duduk santai sambil melepas lelah hingga tak terasa sudah pukul lima sore. Tak ingin pulang Magrib, Pak Koplo pun segera mancal pit kebo-nya.
Pas sampai di Pasar Kliwon, ia baru ingat kalau tadi dipesan sama istrinya, Lady Cempluk, untuk beli roti. Untunglah di timur perempatan Pasar Kliwon itu ada toko roti. Setelah menyandarkan sepeda dan masuk ke toko, Pak Koplo malah bingung karena ternyata di sana dijual beraneka macam roti. Butuh waktu lama bagi Pak Koplo untuk memilihkan roti apa yang enak buat sang isteri.
Demi melihat Pak Koplo yang cuma berkaos oblong dan bercelana pendek, ditambah tadi datangnya dengan ngonthel pit kebo, si pelayan perempuan yang melihat Pak Koplo plompang-plompong itu langsung menegur, ”Lha mau dipeseni ndaramu kon tuku apa?! Mulane suk meneh nek dikongkon kuwi dicatet sik, ben ora bingung!”
Mak prempeng, Pak Jon Koplo langsung terkesiap. Beliau yang bergelar profesor dan punya wibawa di kampusnya itu hanya diremehkan begitu saja oleh seorang pelayan toko! Sungguh terlalu…  Kiriman Ertambang Nahartyo, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…