140909ahtenane1
Senin, 14 September 2009 12:03 WIB Ah Tenane Share :

Ngamen, kisinan

140909ahtenane1Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menambah uang saku bulanan yang dirasakan kurang. Contohnya Jon Koplo dan Tom Gembus. Karena masih sekolah dan merasa tidak punya keahlian memadai, kedua warga Mojosongo yang masih tercatat sebagai siswa slah satu SMK di Solo ini nekat mengamen.
Setiap menjelang sore, hanya dengan berbekal sebuah kencrung, mereka berdua menjelajah dari rumah ke rumah, sampai kampung ke kampung.
Suatu sore, sampailah mereka di Kampung Kepatihan. Ketika Koplo sedang membeli rokok sak ler di sebuah kios, Gembus beraksi sendirian di sebuah warung kaki lima di dekat situ. Tapi betapa kagetnya Koplo. Ketika dia menghampiri Gembus, seorang gadis yang sudah dikenalnya sedang menyerahkan beberapa uang receh kepada Gembus. Gadis itu adalah Lady Cempluk, teman semasa SMP yang dulu ditaksirnya. Tenyata warung itu adalah milik bapaknya Cempluk.
Begitu mengenal wajah Koplo, Cempluk langsung memanggil, ”Plo, kok tekan kene? Saka ngendi? Kene, mampir sik!”
Tapi terlambat. Kebacut konangan, Koplo yang hendak membuang muka dan segera kabur dari tempat itu terpaksa berjalan menghampiri Cempluk dengan senyum yang dipaksakan. Sementara itu matanya kethal-kethil memberi isyarat pada Gembus agar menjauh dan pura-pura tidak kenal dirinya.
Tapi dasar Gembus orangnya Telmi, dia bukannya menjauh dari situ tapi malah menegur Koplo, ”Plo, Ayo! Gek ndang mubeng meneh! Mripatmu kena apa ta? ho, lho, mripatmu Kliliben?”
Nah, gara-gara ke-Telmi-an Gembus itulah Cempluk jadi paham kalau ternyata Koplo sedang ngamen, dan Gembus adalah partnernya. Tinggal Koplo yang raine langsung abang ireng. Dia pun segera pamit sama Cempluk dan menarik Gembus cabut dari tempat itu.
Dari kejauhan, sadar kalau Koplo kisinan, Cempluk malah tertawa terpingkal-pingkal.  Kiriman Heri Jatmiko, Bibis Luhur RT 01/RW 22, Solo.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Industri Kreatif dan Daya Saing Bangsa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (28/6/2017). Esai ini karya Indra Tranggono, seorang pengamat budaya yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah indra.tranggono23@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Industri kreatif bangsa Indonesia terus bergerak menjadi kekuatan budaya yang mampu…