Senin, 14 September 2009 20:16 WIB Klaten Share :

Kecemplung lubang, dua anak meninggal

Klaten (Espos)–Dua anak warga Dukuh Karangjati, Desa Banaran Kecamatan Delanggu, Aula Ramadhani, 11 dan Pungky Aprilia Heriyanti, 13, kecemplung lubang bekas penambangan tanah untuk uruk, di Dukuh Sidodadi desa setempat, Senin (14/9). Dua bocah itu tidak dapat tertolong jiwanya dan sempat dibawa ke RS PKU Delanggu.

Kades Banaran, Hasyim Suharjono mengatakan keluarga korban meminta agar anak-anak tersebut segera dimakamkan dan tidak perlu dilakukan autopsi.

“Keluarga sudah ikhlas menerima musibah ini. Mereka ingin anak-anak segera dimakamkan,” kata Hasyim kepada wartawan di kediaman almarhum Aula, Senin (14/9).

Sementara itu, menurut penuturan ayah Pungky, Heri Mulyono, 35, sebenaranya ada tiga anak yang nyemplung tapi satu orang lainnya laki-laki dan bisa menyelamatkan diri. Terkait keberadaan lubang bekas penambangan tanah urug, sebenarnya beberapa warga di Desa Banaran Kecamatan Delanggu mengaku sudah meminta kepada jajaran Pemerintah Desa Banaran supaya segera menutup lubang bekas penambangan tanah untuk uruk yang ada di Dukuh Sidodadi.

Salah satu tokoh masyarakat (Toma) Desa Banaran, Milir Wardoyo, 59 menyatakan, sebenarnya keberadaan lubang bekas penambangan tanag untuk uruk sudah menjadi sengketa warga setempat.

“Waktu rapat di Balaidesa sudah disampaikan agar lubang yang sudah tanahnya tidak diambili lagi supaya segera ditutup. Sebab, kondisinya membahayakan dan banyak banyak anak-anak kecil yang main di lokasi itu,” kata Wardoyo saat bertemu wartawan di area sekitar lubang bekas penambangan tanah untuk uruk, Senin (14/9).

Pernyataan senada disampaikan warga Dukuh Karangjati, Sugini, 57 dan Ketua RT 10 RW V, Heri Mulyono, 35. Perempuan yang harus merelakan kepergian cucunya, Pungky Aprilia Heriyanti itu mengaku sudah menyampaikan langsung kepada Kades Banaran, agar lubang bekas penambangan tanah untuk uruk segera ditutup.

nad

SOLO BAKERY, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…