Minggu, 13 September 2009 20:45 WIB Issue Share :

Seni Rodat Lesung, ramaikan Festival Seni Budaya Islam

Solo (Espos)–Di era modern ini, kesenian rodat yang tumbuh di kalangan santri, memang nyaris tenggelam. Kendati demikian, tepat di Bulan Ramadan ini, kelompok Serambi Sukowati asal Sragen mencoba menggali kembali kesenian yang memadukan musik, tari, serta bela diri tersebut untuk di hadirkan pada Festival Seni Budaya Islam.

Pada penampilan mereka, Minggu (13/9), di Balai Soedjatmoko, Serambi Sukowati menggandeng para waria dari komunitas Sedap Malam. Tentu kehadiran mereka menjadi pemandangan yang menggelitik mata para penonton. Tampil mengenakan seragam keprajuritan, mereka melantunkan lagu-lagu Salawatan, Tamba Ati, dan Rukun Islam, dengan iringan musik rebana dan lesung yang dimainkan para pria yang memakai pakaian serba hitam dan blangkon sebagai penutup kepala.

Aksi mereka acap kali mengundang tawa. Seperti tatakala lagu Rukun Islam dinyanyikan, salah satu penampil menyela dengan pertanyaan kepada para waria. “Kalau kalian salat pakai rukuh apa sarung,” tanya penampil tersebut.  Sang waria itu langsung buru-buru menjawab kalau dirinya mengenakan kain sarung ketika sembahyang.

Selain bernyanyi, mereka juga menari dengan koreografi yang sederhana. Tak terlalu atraktif namun cukup menghibur dengan gerakan yang lumayan variatif. Para waria itu tak segan pula untuk tampil komunikatif di hadapan penonton.

“Kami sudah lama nggak mainkan seni rodat. Bulan ini kesempatan bagus untuk tampil kembali dengan kesenian ini,” papar pentolan Sedap Malam, Sri Riyanto kepada wartawan. Sementara itu, pimpinan Serambi Sukowati, Pin Wiyatno atau yang populer dengan panggilan Mbah Pin menguraikan semangat seni rodat yang hidup di lingkungan santri patut dilestarikan keberadaannya. Tarian yang mengiringi syair berisi puji-pujian yang sering dihadirkan pada hajatan di  perkampungan itu menurutnya hanya tinggal segelintir saja.

“Setahu saya untuk kawasan Sragen hanya tinggal di Kalijambe saja. Itu pun tinggal satu kelompok kecil,” tukas Mbah Pin.

Lelaki berperawakan kurus tersebut, menyemangati anggota kelompoknya yang terdiri dari bakul (pedagang kecil), petani, tukang becak, dan lain-ain tersebut agar bersedia menampilkan kesenian yang tumbuh sejak puluhan tahun lalu itu. Lengkap dengan sebuah lesung berusia hampir seabad, Serambi Sukowati mengangkat kembali bentuk-bentuk ekspresi kebudayaan Islam di tanah Jawa yang telah beradaptasi atau mengalami asimilasi dengan budaya lokal.

“Kesenian-kesenian semacam ini juga dijadikan sebuah pendekatan kultur para Wali untuk menyiarkan agama Islam. Dengan nuansa damai dan menghibur tapi tidak melupakan esensi dakwahnya,” pungkas Mbah Pin.
hkt

lowongan kerja
lowongan kerja ACCOUNTING HEAD, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan Solopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di milkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO — Predikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…