Minggu, 13 September 2009 15:55 WIB News Share :

Klaim dukungan untuk Ical dinilai tidak logis

Jakarta–Klaim dukungan dari kubu calon Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) bahwa Ical didukung sekitar 400-an DPD II Golkar dan 20-an DPD I Golkar dinilai tidak logis sama sekali.

“Itu kan sama saja menafikan kerja keras dari kandidat lain. Apalagi klaim tersebut disampaikan oleh calonnya langsung, makin subjektif jadinya,” kata Ketua DPP Partai Golkar, Zainal Bintang di Jakarta, Minggu.

Zainal Bintang yang juga manajer kampanye kandidat Ketua Umum Golkar Yuddy Chrisnandi itu mengemukakan hal tersebut menanggapi klaim kubu Ical yang mengatakan bahwa Ical telah didukung 25 DPD I Golkar dan 438 DPD II Golkar di seluruh Indonesia dalam munas Partai Golkar yang dijadwalkan berlangsung 4-7 Oktober.

Ia juga mengatakan, klaim dukungan sebanyak itu sangat tidak rasional seolah-olah DPD II Golkar adalah komunitas yang bisa dibeli dan tidak mempunyai perasaan. Padahal selalu ada ruang hati nurani dan idealisme di dalam hati DPD II maupun DPD I Golkar.

“Tidak semua kader Golkar bisa tergiur oleh materi,” kata Zainal.

Selain itu, lanjutnya, klaim dari kubu Ical tersebut perlu diuji kebenarannya. “Kita lihat saja saat Munas nanti, karena pertarungan sesungguhnya ada di Munas,” ujarnya.

Hingga saat ini ada dua calon kuat yang diperkirakan bakal bertarung ketat dalam bursa Ketua Umum pertai berlambang beringin itu, yakni Surya Paloh dan Aburizal Bakrie.

Selain itu juga masih ada kader muda Golkar yang telah resmi mendeklarasikan diri sebagai calon ketua umum, seperti Yuddy Chrisnandi, Ferry Mursyidan Baldan dan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

Namun, Zainal sebenarnya tidak mempersoalkan proses dan dinamika yang berlangsung di antara kedua calon kuat. Dia hanya mengharapkan agar dalam persaingan tersebut tetap rasional dan logis. Klaim-klaim yang tidak rasional tersebut, menurut dia, telah  merusak demokrasi. “Ini jelas berlebihan dan antilogika. Padahal demokrasi itu berdasarkan logika,” ujarnya.

Pada bagian lain Zainal mengatakan bahwa tantangan Partai Golkar lima tahun kedepan adalah mengembalikan kejayaan partai.

“Mau tidak mau harus diakui bahwa Partai Golkar adalah aset bangsa yang telah berjasa selama 32 tahun.Mempertahankan NKRI dan Pancasila adalah salah satu jasa Golkar,” katanya.

Untuk itu, figur yang tepat memimpin Golkar ke depan adalah pejuang yang memiliki komitmen. “Sebagai pejuang dia sudah biasa merasakan suka dan duka. Selain itu harusnya orang tersebut berlatar belakang aktivis, karena sudah tentu mengetahui arti dari kata pejuang,” jelasnya.

Selain pejuang, lanjutnya, faktor komitmen juga penting agar Golkar tidak lemah dari dalam. “Contohnya saat Golkar mengusung Pak Jusuf Kalla sebagai calon Presiden, kan ada orang yang melemahkan Golkar dengan membuat Munaslub dengan tidak mendukung Pak JK,” katanya.

Sebelumnya dua sesepuh Golkar, mantan Ketua DPP Golkar Pinantun Hutasoit dan mantan Wakil Sekjen Moestahid Astari mengatakan, Ketua Umum Golkar periode 2009-2014 haruslah sosok yang sungguh-sungguh membangun idealisme partai untuk mengembalikan kejayaan partai dan bukan orang yang menjanjikan sejumlah uang atau mendirikan gedung DPP bertingkat-tingkat.

“Jika pimpinan Golkar dipertaruhkan pada dana melimpah, Golkar akan terjebak pada pola pikir borjuisme,” kata Pinantun.

Moestahid menambahkan Golkar membutuhkan pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang jelas serta mempunyai cara menegakkan idealisme partai. Bukan pemimpin yang belum apa-apa sudah mengatakan bergabung dengan partai pemenang pemilu.
Ant/tya

lowongan kerja
lowongan kerja SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Ngutang

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Selasa (18/7/2017). Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia dan Analis Ekonomi BNI Securities Jakarta Barat. Alamat e-mail penulis adalah ronny_sasmita@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Banyak kawan yang bertanya kepada saya, mengapa pemerintah memperlebar…