Kamis, 10 September 2009 20:30 WIB Solo Share :

Radio tak berizin menjamur di Soloraya

Solo (Espos)–Tepat di hari ini, merupakan peristiwa bersejarah bagi insan radio. Ya, di Hari Radio yang ke-64 yang jatuh pada 11 September 2009, para pelaku bidang penyiaran merayakan hari besar mereka.

Namun, momentum ini sekaligus dijadikan sebuah tantangan untuk melakukan pembenahan di berbagai faktor yang menghambat perkembangannya. Salah satunya, mulai maraknya radio yang tak memiliki Izin Siaran Radio (ISR) dan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP). Kejadian semacam itu tak terkecuali menerpa kawasan Soloraya.

Ketua Pengurus Cabang Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Surakarta, Didiek M Mifta mensinyalir, untuk Soloraya terdapat seratusan radio yang tak memiliki ISR maupun IPP. Jumlah radio bodong alias tak berizin itu diperkirakan tiga kali lipat lebih banyak dibanding radio yang sudah mengantongi izin yang hanya ada sekitar 30-an.

“Radio yang resmi memiliki ISR dan IPP hanya sekitar 30-an. Selebihnya, mereka belum punya izin dan sebagain kecil masih dalam taraf pengurusan perizinan,” beber Didiek saat dihubungi Espos, Kamis (10/9).

Dengan kondisi demikian, lanjut dia, otomatis sangat mengganggu stabilitas radio-radio yang legal. Sebab, keberadaan mereka ikut mengganggu frekuensi dari radio yang sah. Untuk itu, tegasnya, diharapkan pemerintah segera menindaklanjuti dan menindak tegas radio yang tak memiliki izin operasi tersebut. “Dengan tanpa adanya izin, maka mereka otomatis tidak memenuhi rambu-rambu yang ada. Padahal mereka juga beroperasi seperti halnya radio-radio yang telah memiliki ISR maupun IPP,” tukas dia.

Selain permasalahan maraknya radio bodong, PRSSNI Surakarta juga menyoroti perkembangan dan popularitas radio secara keseluruhan. Secara global, lanjut Didiek, eksistensi radio mengalami suatu kemunduran. Hal itu sebagian dipengaruhi semakin kuatnya dominasi media televisi dan internet di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, saat ini, radio-radio Soloraya diharapkan bisa bangkit di tengah persaingan super ketat di ranah industri penyiaran. Tentunya, wajib mengimbanginya dengan sejumlah pembenahan dan pengaktualisasian dalam berbagai sektor untuk bisa terus menarik minat masyarakat.

“Saya yakin, segmentasi khusus kalangan pendengaar radio akan jalan terus. Karena bagaimana pun, radio tetap memiliki kelebihan tersendiri yang tak dimiliki media lainnya,” tandas Didiek yang juga menjadi Pengurus Daerah PRSSNI Jawa Tengah dan Direktur Radio GSM FM tersebut.
hkt

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…