Rabu, 9 September 2009 18:28 WIB Solo Share :

Musim kering, Perhutani tetapkan siaga I untuk Jateng dan Jatim

Solo (Espos)–Perum Perhutani menetapkan status siaga satu khusus wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim) sebagai mengantisipasi kebakaran hutan pada musim kemarau 2009 ini. Seluruh sumber daya yang ada dikerahkan untuk memantau kondisi di lapangan.

Beberapa titik yang diwaspadai untuk wilayah Jateng adalah wilayah hutan Gunung Slamet, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro serta hutan rimba. Unit I Perhutani Wilayah Jateng mencatat selama musim kering ini telah terjadi dua kebakaran di padang savana, yaitu puncak Gunung Sindoro seluas 10 hektare dan Gunung Sumbing seluas 20 hektare. Nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,3 juta.

“Elnino memang memengaruhi musim, panas yang sangat tinggi bisa menimbulkan kebakaran. Kami menetapkan siaga satu untuk wilayah Jateng dan Jatim. Semua personel, mulai dari Kanit hingga Satgas pengendalian diminta siap siaga di lapangan dan langsung melapor jika terjadi kebakaran,” ungkap Direktur Utama Perum Perhutani, Upik Rosalina Wasrin, kepada wartawan seusai mengikuti acara buka puasa bersama di Gedung Pertemuan Perhutani, Kleco, Solo, Selasa (8/9).

Selain Kanit, petugas Perhutani dan Satgas pengendalian, Upik mengatakan, antisipasi kebakaran hutan, juga pencurian dan perampokan hutan, pihaknya juga mengaktifkan pengamanan (Pam) swakarsa. Langkah pengamanan ini melibatkan masyarakat di sekitar hutan sebagai informan.  Ada pula Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Sementara itu, Kepala Unit (Kanit) I Perum Perhutani Jateng, Heru Siswanto menambahkan, di Jateng saat ini ada 10.299 petugas Perhutani dan 1.894 LMDH dengan anggota 2,3 juta keluarga. Paling banyak, LMDH itu tersebar di wilayah Kabupaten Blora.

“Dengan pengamanan semacam ini, tingkat kebakaran, pencurian dan perampokan, selama beberapa tahun terakhir, cenderung menurun,” ujar Heru, ditemui pada kesempatan yang sama.

Mengenai kebakaran di Sumbing dan Sindoro, Heru mengatakan, kemungkinan penyebabnya adalah ulah para pendaki yang menyalakan api unggun dan lupa memadamkannya. Untungnya, kata dia, hutan yang terbakar itu bukanlah hutan tanaman produktif. Hanya padang rumput diselingi tanaman di puncak gunung, sehingga tidak berpengaruh pada volume produksi kayu Perhutani.

Namun demikian, Heru melanjutkan, kebakaran savana itu tetap akan berpengaruh pada ekologi atau lingkungan. Jadi harus tetap dicegah dan dihindari.

shs

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…