Rabu, 9 September 2009 16:49 WIB Sukoharjo Share :

Air menyusut, warga bercocok tanam di lahan Waduk Mulur

Sukoharjo (Espos)–Penyusutan air di Waduk Mulur, Kecamatan Bendosari dimanfaatkan puluhan warga sekitar untuk bercocok tanam di lahan waduk yang mengering. Selain padi, berbagai tanaman palawija seperti kacang tanah dan jagung juga menjadi pilihan.

Salah seorang petani yang menggarap lahan waduk Mulur, Darmanto, 60, warga Kenteng, Mertan, Bendosari mengungkapkan, dirinya menggarap lahan waduk seluas 1.000 meter persegi. “Ini baru saja selesai saya tanami padi,” jelasnya saat dijumpai Espos, Rabu (10/9) siang, di areal Waduk Mulur.

Dikatakan dia, penanaman bibit padi dilakukan setelah air yang menggenangi lahan tersebut dipastikan surut. Menurutnya, lahan waduk di sebelah barat, tepatnya di perbatasan Desa Mertan dengan Mulur memang dimanfaatkan untuk bercocok tanam, khususnya saat musim kemarau setelah air waduk menyusut.

Darmanto memaparkan, setiap petani yang menggarap lahan waduk sudah mempunyai blok tersendiri sehingga tak terjadi perebutan di kalangan warga. Dijelaskan dia, menanam padi di lahan waduk menjadi salah satu alternatif pekerjaan lantaran lahan sawah miliknya di desa terpaksa diberakan akibat kesulitan air. Lebih lanjut, pria paruh baya itu mengakui jika menanam padi di lahan waduk berisiko gagal karena sewaktu-waktu permukaan air bisa kembali naik.

“Tak jarang lahan yang terlanjur ditanami tenggelam karena hujan keburu turun. Ya namanya bertani di lahan seperti ini harus siap dengan segala kemungkinan,” kata dia.
Senada, petani lain yang juga menggarap lahan di waduk Mulur, Wiro Sadiyo, 70, warga Tegalrejo, Mulur menyatakan, dirinya hanya bisa berharap permukaan air waduk tak naik sebelum padi yang ditanamnya dipanen. Dia mengungkapkan, bertanam padi di lahan waduk juga mengeluarkan biaya cukup banyak.

Untuk mengairi sawah, lanjutnya, dirinya perlu mengoperasikan mesin diesel guna memompa air waduk. “Otomatis perlu membeli bahan bakar untuk menghidupkan mesin diesel,” kata dia. Saat ditanya apakah dirinya pernah meminta izin kepada pengelola waduk sebelum menanami lahan waduk, dia menyatakan beberapa tahun lalu pernah meminta izin bersama-sama dengan warga lain.

Sebelumnya, Koordinator Perwakilan Balai Wilayah Jlantah Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Bengawan Solo, Suwar mengatakan, tanah waduk sebenarnya tak boleh ditanami karena bisa memicu penumpukan sedimentasi di dasar waduk. Namun pihaknya tak bisa melarang warga yang menanami lahan waduk Mulur karena alasan kemanusiaan.

rei

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…