Selasa, 8 September 2009 15:07 WIB Boyolali Share :

Tikus menyerang, ratusan ha tanaman padi terancam

Boyolali (Espos)–Serangan hama tikus dalam beberapa pekan belakangan ini berkembang semakin pesat dan merambah ke areal persawahan irigasi teknis di wilayah Kabupaten Boyolali. Sedikitnya ratusan hektar tanaman padi siap panen di lima kecamatan terancam gagal panen akibat serangan hama pengerat tersebut.

Upaya pemberantasan dan pengendalian hama tikus yang populasinya semakin meningkat terus digiatkan petugas dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan. Keterbatasan anggaran yang tersedia mengakibatkan upaya tersebut kurang berjalan maksimal.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Boyolali, Juwaris, mengatakan hama tikus mulai menyerang areal persawahan di daerah irigasi teknis, Karena areal persawahan tadah hujan sudah tidak lagi ditanami padi karena kesulitan air pada musim kemarau ini.

“Di sawah tadah hujan, sudah tidak ada lagi hama tikus karena tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah. Petani sudah tidak menanami padi lagi pada kemaru ini,” ujarnya, Selasa (8/9), di Boyolali.

Lahan persawahan di daerah irigasi teknis yang terserang hama pengerat ini, menurut Juwaris, terdapa di Kecamatan Sawit, Banyudono, Simo, Karanggede dan Wonosegoro. Kerusakan tanaman padi paling parah terjadi di wilayah Wonosegoro.

Di Kecamatan Wonosegoro terdapat tiga desa yang tanam padinya diserang tikus, yakni Desa Wonosegoro (seluas 14 hektare), Desa Karangjati (14 hektare) dan Desa Ketoyan (3 hektare). Total luas tanaman padi yang diserang di kecamatan ini mencapai 55 hektare.

Sementara di Kecamatan Simo luas tanaman padi yang diserang sekitar 26 hektare, di Kecamatan Karanggede 19 hektare dan Kcamatan Banyudono sekitar 14 hektare. Sedangkan luasan tanaman padi yang paling sedikit terserang tikus adalah di Kecamatan Sawit, yakni hanya sekitar 3 hektare.

Ditambahkan Juwaris, salah satu upaya yang akan ia lakukan untuk mengatasi serangan hama tikus ini adalah dengan cara melakukan gropyokan melibatkan kelompok tani. Rencananya gropyokan ini dilakukan mulai 10 September besok dengan sasaran pertama yakni sawah di Desa Ketoyan yang dianggap paling parah.

kha

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…