Selasa, 8 September 2009 16:30 WIB News Share :

300 Nasabah "Swiss Cash" datangi Kejari Muna

Raha–Sekitar 300 nasabah “swiss cash”, semacam bank gelap, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Muna dan Pengadilan Negeri Raha, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (7/9).

Kedatangan para nasabah itu untuk meminta penjelasan status uang mereka yang disimpan pengelola swiss cash, La Ode Sifu, namun kini dana tersebut sedang diblokir terkait kepentingan proses hukum.

La Ode Sifu yang menjalankan bisnis swiss cash sejak tahun 2008 telah divonis tiga tahun penjara Pengadilan Negeri Raha pada Senin (7/9) karena dianggap bersalah mengelola bisnis tersebut tanpa memiliki izin dari lembaga perbankan.

Bisnis “swiss cash” yang dikelola oleh La Ode Sifu memiliki nasabah sekitar 8.000 orang dengan jumlah dana yang dihimpun dari masyarakat tersebut mencapai Rp 10 miliar lebih.

Pada sidang ke-15 yang merupakan sidang putusan terakhir PN Raha, Senin (7/9) memvonis La Ode Sifu bersalah dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara,  denda Rp 10 miliar dan subsider satu tahun kurungan serta membayar uang persidangan sebesar Rp 5.000.

Usai sidang tersebut, ratusan nasabah siwss cash sempat kisruh dengan para hakim PN Raha, namun cepat dikendalikan oleh aparat kepolisian. Pada hari ini, nasabah swiss cash ini kembali mendatangi PN Raha dan Kejari Muna dengan dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Mereka berdialog dengan Ketua PN Raha, Jamaluddin Samosir, SH dan Kasi Pidsus Kejari Muna, Juli Isnur SH.

Namun mereka tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan karena Ketua PN Raha menyuruh mereka menanyakan uang mereka kepada pihak kejaksaaan, dan sebaliknya pihak kejaksaan menyuruh mereka ke PN Raha.

“Kami bingung, kami ke kejaksaan disuruh ke pengadilan, dan kami ke pengadilan disuruh ke kejaksaan. Kenapa kami harus dipimplang seperti ini, kok kami tanyakan uang kami yang diblokir, tidak diberikan penjelasan yang memuaskan,” ujar para nasabah.

Para nasabah swiss cash ini tampak marah dan berteriak-teriak di halaman kantor PN dan Kejari Muna sebagai pelampiasan kekesalan mereka.

“Berikan uang kami, kami mau berlebaran yang semakin dekat waktunya, jangan tahan uang kami,” ujar para nasabah dengan nada teriakan.

Menurut Kasi Pidsus Kejari Muna, Juli Isnur, pihaknya masih menunggu selama tujuh hari sesuai opsi yang diambil kuasa Hukum La Ode Sifu. Bila selama kurun waktu yang diberikan itu, La ode Sifu tidak lagi melakukan upaya hukum, berarti sudah ada keputusan hukum tetap, dan pihaknya pun sudah bisa bersikap apakah melakukan pendataan terkait pembayaran uang nasabah.

Hal senada dikatakan, Ketua PN Raha, Djamaluddin Samosir bahwa setelah putusan, maka semua barang bukti diserahkan ke terdakwa. “Saat ini tergantung pada eksekutor dalam hal ini kejaksaan,” ujarnya.

 

Ant/tya

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Defisit, Utang, dan Pertumbuhan

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (13/7/2017). Esai ini karya Muhammad Husein Heikal, peneliti di Economic Action (EconAct) Indonesia. Alamat e-mail penulis adalah huseinheikal@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Defisit anggaran diperlebar, utang luar negeri ditambah, maka pertumbuhan ekonomi akan terdongkrak. Begitulah yang bisa…