Senin, 7 September 2009 12:33 WIB Ah Tenane Share :

Azan campursari

070909ahtenaneJon Koplo biasanya jarang merambah masjid. Tapi begitu Ramadan tiba, ia terlihat aktif dan selalu datang paling awal, terutama saat menjelang buka puasa. Maklum, takmir masjid di wilayah Jaten Karanganyar itu selalu menyediakan acara buka bersama.
Hari itu, seperti biasa Jon Koplo datang paling awal ke masjid. Sesaat kemudian, sobat karibnya, Tom Gembus, menyusul. Berbeda dengan Koplo, Gembus ini dikenal sebagai pemuda yang rajin ke masjid. Ia bahkan sering ditunjuk jadi muazin.
”Plo, mbok sekali-kali kamu azan, mosok suara bagus cuma buat campursarinan?” tantang Gembus.
”Oke. Mengko aku tak sing azan. Insya Allah swaraku ora kalah karo kowe,” jawab Koplo kemlinthi.
Akhirnya, waktu Magrib pun tiba. ”Ayo Plo, batalke pasamu gek ndang azan!” perintah Tom Gembus.
Setelah nyruput segelas air putih, Koplo segera mendekat ke mikrofon. Kedua tangannya menutupi kedua telinganya sembari menarik napas dalam-dalam. Sesaat kemudian…
”Allaaa…hu akbar… Allaaa…hu akbar…” suara Koplo begitu keras dan melengking tinggi karena saking semangatnya. Jamaah yang sudah mulai berdatangan sedikit kaget dan mengumbar senyum. Bahkan ada yang nyeletuk, ”Wah, ya ora maido, kulina nyanyi campursari. Ning sayange kedhuwuren, aja-aja mengko nek pas hayya ‘allash sholah ora kuwat?”
Koplo yang mulutnya sedang dekat dengan mikrofon itu ternyata mendengar celetukan tersebut. Kemudian dengan spontan dia menoleh ke belakang sambil berkata, ”Piye, nadaku kedhuwuren ya?” tanyanya seolah tanpa dosa.
Tentu saja suara itu masuk corong dan terdengar jelas sekali sehingga membuat para jamaah bereaksi. Ada yang tersenyum, tertawa, tapi ada juga yang mlerok karena merasa terganggu. Gembus segera menghampiri Koplo.
”Ssssttt… nggak boleh ngomong! Ayo terus azan, kedhuwuren nggak papa, yang penting kuat!” bisik Gembus sambil ngelus dada.  Kiriman Imam Subkhan, Perum JPI RT 01/RW 19, Jaten, Karanganyar.

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…