Minggu, 6 September 2009 14:38 WIB News Share :

Kekurangan susu, bayi korban gempa terpaksa diberi air putih campur gula

Cianjur–Musibah longsor akibat gempa yang menggoncang Kampung Babakan, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat, empar hari lalu menelan banyak korban anak-anak dan wanita. Warga yang kini tinggal di posko pengungsian membutuhkan susu dan perlengkapan untuk bayi mereka.

“Susu bayi masih kurang,” kata Tini, warga pengungsi di lokasi, Minggu (6/9). Untuk menghilangkan rasa lapar bayinya, Tini terpaksa memberi air putih yang dicampur gula untuk anaknya itu. “Kadang saya lumatkan biskuit,” katanya.

Warga pengungsian pun disulitkan dengan tempat Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) yang jauh dari pengunsian. Untuk membersihkan kotoran anaknya, Tini dan ibu-ibu lainnya terpaksa membasahi lap dengan air minum kemasan. “Kita perlu pampers. Soalnya susah kalau ambil air,” ungkapnya.

Tini meminta bantuan pemerintah untuk memperhatikan kondisi bayi mereka. “Kita perlu selimut bayi, baju bayi, dot dan botol susu,” pungkasnya.

Stok obat aman

Sementara itu, beberapa korban gempa Cianjur yang berada di posko pengungsian mengalami sakit-sakitan. Sejauh ini, tim medis menyatakan stok obat-obatan untuk korban gempa masih aman. “Stoknya sih masih aman,” kata dokter relawan dari RS PMI Bogor, dr. Dadang.

Dadang mengatakan, suplai obat-obatan tersebut berasal dari RS PMI Bogor. Obat-obatan tersebut didistribusikan ke beberapa posko pengungsian, seperti di Kampung Babakan dan Kampung Pamoyanan. Kondisi warga pengungsian sendiri tergolong sehat. Namun, beberapa diantaranya mengalami gatal-gatal dan batuk.

“Paling tambahan obat batuk dan antibiotik saja,” katanya. Suplai obat-obatan sendiri terus mengalir sejak terjadinya gempa. Hingga harim keenam, kondisi fisik korban gempa mulai memulih.

 

dtc/tya

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…