Kamis, 3 September 2009 17:17 WIB News Share :

Pemkab akui pasokan beras pengungsi masih minim

Garut–Jajaran Pemkab Garut mengakui masih minimnya pasokan beras bagi puluhan ribu pengungsi korban gempa bumi di seluruh wilayah Garut.

“Bantuan segera dialokasikan, jika telah tiba bantuan dari pemerintah provinsi Jawa Barat, bahkan kinipun antara lain masih menunggu beras dari Dolog/Bulog,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi (Disnakersostrans) setempat Hj Elka Nurhakimah di Garut, Kamis.

Ia menyikapi mulai banyak keluhan para pengungsi, yang sebagian besar sejak pasca peristiwa gempa berkekuatan 7,3 pada Skala Richter (SR) tidur di lapangan terbuka serta mengonsumsi makanan berbuka puasa serta sahur apa adanya.

Dia mengingatkan, pengiriman 2,5 ton dari kebutuhan 5 ton beras hanya untuk tanggap darurat menghadapi kebutuhan buka puasa hari ini serta makan sahur Jumat dini hari besok, yang juga disertai lauk-pauk serta tenda dan peralatan lainnya.

Sementara itu camat Cisompet E. Haerudin mengemukakan, di wilayahnya terdapat 515 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.575 pengungsi.

Hari ini mendapatkan bantuan 240 kg beras bersama lauk-pauk termasuk minyak goreng serta 10 tenda, namun bahan makanan tersebut hanya cukup untuk berbuka puasa dan makan sahur.

Sebanyak 515 rumah mereka mengalami rusak berat, yang tak bisa dihuni lagi juga warga setempat masih tercekam ketakutan terjadinya gempa susulan.

Sedangkan di kecamatan Cikelet terdapat 5.100 KK atau sekitar 25.500 pengungsi, yang tersebar pada tiga lokasi, sejak kemarin mendirikan dapur umum namun kesulitan dana untuk mendapatkan bahan bakar minyak tanah, ungkap camatnya, Rifan MSi.

Kemudian camat Pameungpeuk Jujun Jumhana melaporkan, sekitar 525 KK atau 1.125 pengungsi sangat mengharapkan bantuan MCK serta penambahan sarana air bersih.

Camat Cibalong, Dik Dik AR mengemukakan, 6.206 KK atau sekitar 18.618 pengungsi semalam tidur pada areal terbuka perkebunan di Miramare, dalam kondisi gelap gulita akibat terjadinya pemadaman listrik, padahal mereka banyak membawa bayi serta anak balita.

Mereka pemilik 1.355 rumah yang mengalami rusak berat dan tidak bisa digunakan lagi, juga pemilik 44 rumah yang hancur rata dengan tanah, sehingga diharapkan datangnya bantuan tenda serta bahan makanan bisa dijadikan solusi tanggap darurat untuk hari ini, katanya menambahkan      

Ant/tya

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…