Kamis, 3 September 2009 19:54 WIB Solo Share :

Buah-buah eksotik membuat wisatawan Prancis kagum

Solo (Espos)–Apa jadinya kalau puluhan bule menyambangi Pasar Gede? <I>Gayeng<I> dan ramai. Seperti tampak saat kunjungan 32 orang warga Strustburg, Prancis di Pasar Gede, Kamis (3/9). Saat rombongan bule yang datang dengan menumpang becak tiba di pasar, para pedagang langsung pasang aksi. Mereka menawarkan aneka dagangan demi mendapatkan perhatian wisatawan mancanegara tersebut. Ada yang menyodorkan kain batik. Ada pula yang menawarkan rempah-rempah. Bahkan mereka tak canggung menyebut harga barang yang dijual.

Salah satu wisatawan, Christelle mengungkapkan kunjungan rombongannya ke Pasar Gede baru kali pertama dilakukan. Dia mengaku heran dengan kondisi pasar dan aneka dagangan yang ditawarkan. Menurutnya banyak dagangan yang tidak dapat dijumpai di negeri asalnya, Prancis.

“Aneh sekali,” pekik Christelle saat melintasi lorong pejual jamu dan rempah di sisi utara Pasar Gede. Tinggi tumpukan jamu dan rempah tersebut melebihi tinggi Christalle, hingga dia merasa seolah tenggelam dalam lautan jamu-jamuan.

Tak hanya sampai di situ, gadis yang selalu menenteng kamera tersebut juga kagum menakala melihat buah-buahan dan mencium bau unik rempah-rempah. Kekaguman juga diungkapkan, Narie Anne. Narie mengatakan sangat heran melihat buah-buahan eksotik yang dipajang di kios penjual buah. Jambu air, manggis, dan kelengkeng sangat menarik perhatiannya.

“Terlalu banyak yang bsia dilihat di sini. Buah-buah di sini eksotik. Baunya sangat sedap, membuat saya tiba-tiba lapar. Apalagi orang-orang di sini ramah, banyak menyapa, membuat kami senang,” ujar Narie, saat ditanya wartawan, kesannya berkeliling Pasar Gede, Kamis.

Kunjungan 32 wisatawan asal Prancis ke Pasar Gede merupakan bagian dari tur wisata ke beberapa kota di Indonesia. Sebelum menyambagi Pasar Gede, rombongan sempat singgah di Museum Radya Pustaka. Pemandu wisata yang menyertai rombongan tersebut, Subekti mengatakan 32 wisatawan itu tergabung dalam kelompok Amicale, yakni kelompok bertemanan yang beranggotakan orang-orang yang aktif di bidang kesehatan.

“Ada dokter, perawat, ahli bedah dan lain-lain yang tergabung dalam kelompok Amicale. Sengaja kami ajak ke sini untuk menunjukkan bagaimana kondisi pasar tradisional di Solo. Mereka ternyata sangat antusias dan tertarik. Setelah dari Solo, mereka akan melanjutkan kunjungan wisata ke Gunung Bromo,” urai Subekti.

tsa

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…