Rabu, 2 September 2009 15:06 WIB Karanganyar Share :

Terserang ulat, harga kol Tawangmangu anjlok

Karanganyar (Espos)–Harga jual kol di tingkat petani di wilayah Tawangmangu, Karanganyar, selama bulan Ramadan ini turun drastis. Jika semula petani mampu menjual kol seharga Rp 2.000/kg, saat ini paling tinggi hanya Rp 1.000/kg.

Menurut penuturan sejumlah petani kol setempat, Selasa (1/9), penyebab anjloknya harga jual kol itu karena kualitas kol yang buruk setelah hampir selama masa tanam hingga masa panen terus terkena serangan hama ulat. Kulit kol banyak yang menghitam dan berongga akibat banyaknya gigitan ulat. Saat memanennya, petani bahkan terpaksa menguliti atau memotong sebagian besar kulit kol yang terkena serangan ulat tersebut.

“Ya mau bagaimana lagi. Kulitnya banyak yang berlubang dan menghitam akibat serangan ulat. Terpaksa dipotong dan dibuang,” aku salah satu petani, Ny Warni, yang ditemui Espos di lahannya, di Desa Gondosuli, Tawangmangu.

Akibat kualitas kol yang buruk itu, kata dia, harga jualnya di pasaran langsung anjlok hingga 50% dari harga semula. Saat ini, paling tinggi kol tersebut laku Rp 1.000/kg. Hal itu diperparah dengan masa panen raya di daerah penghasil sayuran lain, salah satunya di Sarangan, Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan kawasan puncak Tawangmangu.

“Sekarang ini, banyak daerah yang sedang panen raya kol. Tidak hanya di daerah Tawangmangu, tetapi di daerah lain juga sedang panen raya, seperti Sarangan dan lainnya. Makanya, harga jual kol tidak bisa tinggi. Apalagi, kol di lahan kami terserang ulat,” tambah Ny Lilik, petani kol lainnya.

Dia juga membenarkan harga jual kol Tawangmangu saat ini hanya Rp 1.000/kg atau turun drastis dibandingkan harga jual semula yang mampu menembus Rp 2.000/kg. Serangan hama ulat menjadi faktor utama menurunnya harga jual kol ini. Sementara, panen raya kol di beberapa daerah juga makin menambah besar persediaan barang di pasaran. Hal itu juga otomatis memengaruhi harga pasaran kol.

dsp

lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana…